Gundala Memantik Geliat Seni Gambar

oleh -
gundala
MENGGAMBAR :Kkomunitas Bandung Sketchwalk menunjukan hasil gambar tokoh Gundala. Foto : (Nur Fidhia Shabrina/RADAR BANDUNG)

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Film Gundala yang tayang di bioskop sejak 29 Agustus kembali menggeliatkan aktivitas menggambar. Bukan hanya anak kecil, orang dewasa juga kembali melakukan kegiatan ini untuk mengisi waktu luang dan meramaikan vibes Gundala. Kemeriahan film ini disebabkan kisah Gundala yang diangkat dari komik karya Hasmi ini menjadi salah satu ikonik cerita dengan latar belakang Indonesia.

Seperti yang dilakukan komunitas Bandung Sketchwalk yang menggelar kegiatan nonton bareng dan menggambar komik Gundala. Dilakukan di Braga Citywalk, sebanyak 30 peserta berpartisipasi dalam kegiatan ini. Para pehobi ini berkumpul untuk menginterpretasikan Gundala lewat gambar dua dimensi. Mereka memaknai Gundala setelah mengadakan nonton bareng film arahan Joko Anwar tersebut.

Dengan mengambil area di sekitar Braga XXI dan Artland, sosok Gundala yang selama ini hadir dalam bentuk komik usang coba dibuat ulang oleh peserta. Hasilnya, beberapa karya ada yang dimodifikasi sampai bisa menghadirkan gambar yang lebih nyata dan detail. Pendiri dan Koordinator Bandung Sketchwalk, M Tahmrin mengatakan kegiatan menggambar bersama rutin dilakukan satu bulan sekali di setiap minggu pertama. Di bulan ini mereka sepakat mengambil tema Gundala sebagai objek yang digambar karena kemeriahan Gundala sedang tinggi.

“Cerita Gundala awalnya justru dari komik, nah komunitas kami salah satunya berisikan para pecinta komik. Kebetulan film Gundala baru saja rilis, dan waktunya pas dengan jadwal kami menggambar. Kegiatan ini merupakan inisiatif Bandung Sketchwalk untuk turut memeriahkan dirilisnya film Gundala,” katanya di Braga City Walk, Senin (2/9).

Menurutnya dengan menggambar Gundala sekaligus mendekatkan diri dengan generasi muda. Terbukti, peserta yang hadir pada hari itu diikuti anak kecil, remaja sampai orang dewasa. “Ingin mendekatkan diri melalui komunitas. Kalau gak gitu nanti gak ada regenerasi, yang meneruskan siapa,” lanjutnya.

Para peserta yang datang tampak bersemangat menggambar dan memoleskan crayon atau spidol pada kertasnya. Dia mengatakan 30 peserta terpilih ini sebelumnya mendaftar untuk bisa ikut nonton barengnya. Mereka juga membawa peralatan menggambar sendiri yang kemudian setelah menggambar karyanya diperlihatkan kepada Thamrin.

“Yang beli tiket sebenarnya ada 75, tapi kita tolak-tolakin karena kapasitas bioskop yang kecil. Tadinya mau sewa satu studio, tapi tidak bisa karena jadwal filmnya reguler jadi banyak penonton umum juga,” terangnya. Walaupun tema menggambarnya Gundala, Thamrin menuturkan peserta tidak diwajibkan menggambar hal itu. Akan tetapi, karena itu yang paling terlihat jadi banyak yang menjadikan sosok Gundala sebagai objek gambarnya.

Thamrin menyebutkan, kegiatan Bandung Sketchwalk setiap bulannya selalu diikuti lebih dari 50 orang. Tanpa ada sistem harus mendaftar sebagai anggota, Bandung Sketchwalk terbuka untuk siapa saja. Biasanya mereka menggambar bersama selama empat jam, yaitu pukul 8.00-12.00 WIB. Khusus untuk Gundala, waktunya hanya dua jam karena harus menonton filmnya dulu.

“Konsep Bandung Sketcwalk memang menggambar sambil piknik. Biasanya kami di luar ruangan seperti kebun binatang atau Taman Lalu Lintas. Setelah menggambar bersama, ada sesi untuk berbagi cerita dan voting karya favorit,” ujarnya.

Bulan depan rencananya Bandung Sketchwalk akan mengadakan menggambar bersama di Museum Barli, Jalan Dr Sutami, Kota Bandung. Untuk info lebih lanjut bisa melihat akun Instagram @bandungsketchwalk.

(fid)