Bau Belerang Dari Geothermal Awi Bengkok

oleh -
belerang
ILUSTRASI : Warga menikmati suasana curug. Bau belerang yang dikeluarkan oleh Curug Janggot yang airnya mengalir ke Sungai Cikawung di Desa Tamanjaya, KBB diduga akibat manifestasi geothermal. Foto : ( IST )

RADARBANDUNG.id, GUNUNGHALU – Bau belerang yang dikeluarkan oleh Curug Janggot yang airnya mengalir ke Sungai Cikawung di Desa Tamanjaya, Kabupaten Bandung Barat diduga akibat manifestasi geothermal.

“Banyak faktor memang. Salah satunya karena manisfestasi geothermal juga bisa menimbulkan bau belerang. Seperti geothermal Awi Bengkok dekat Gunung Salak, dan jarak yang lebih jauh lagi dari Gunung Salak yaitu Gunung Botol juga mengeluarkan bau belerang,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi pada Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Hendra Gunawan kepada wartawan, Selasa (3/9/2019).

Seperti diketahui, yang dimaksud manifestasi geothermal merupakan gejala di permukaan yang merupakan ciri terdapatnya potensi energi panas bumi. Jenis manifestasi panas bumi yang berupa tanah panas yang mengeluarkan uap.

Menurutnya, apabila kemungkinan bau belerang tersebut muncul karena dulunya terdapat gunung api purba, harusnya sudah beberapa kali tercium bau belerang.

“Bukan hanya hari ini (tercium bau belerang) dan lokasinya mungkin sudah lama ditemukan warga. Seperti halnya Gunung Halimun Bogor yang juga merupakan gunung purba,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Tamanjaya Wawan Gunawan mengatakan, bau belerang di sekitar Curug Janggot dan aliran sungainya menjadikan kawasan itu tak biasa. Hingga sekarang belum diketahui asal muasal dari bau belerang tersebut.

“Di Gununghalu kan nggak ada gunung api, tapi anehnya bau belerang tercium di sana. Memang pernah saya mendengar, katanya, dulunya di wilayah Gununghalu terdapat gunung api purba. Sebagai bukti sisa keberadaan gunung tersebut, dari bau belerang di kawasan Curug Janggot,” kata Wawan.

Ia mengungkapkan, kawasan Curug Janggot merupakan lokasi penemuan batu akik oncom. Pada masa booming batu akik, bongkahan batu oncom dihargai Rp 3 juta per kilogram.

“Curug Janggot maupun Curug Kujang memiliki keunikan yang mungkin tidak dimiliki curug atau air terjun di tempat lain. Saya ingin mengembangkan dua kawasan itu menjadi objek wisata. Harapannya masyarakat ikut terlibat dan bisa menangkap peluang ekonomi,” tandasnya.

(bie)