Wajah Lama 19 Menteri Kabinet Jilid II Jokowi-Ma’ruf

oleh -
internet

Respons Pasar

Sementara itu, pemanggilan Sri Mulyani yang kembali didapuk sebagai menteri keuangan membawa angin segar pada pasar saham. Pada pembukaan perdagangan kemarin, indeks harga saham gabungan (IHSG) menguat 0,14 persen ke level 6.207,49.

IHSG pada pukul 10.00 WIB bergerak ke level 6.202,95 atau menguat 0,06 persen dibanding saat penutupan Senin (21/10/2019). Bahkan, IHSG sempat menyentuh level tertingginya di 6.229,39 atau menguat 0,49 persen.

Pada penutupan perdagangan sore kemarin, IHSG ditutup menguat 0,43 persen menjadi di level 6.225,49. Dengan penguatan itu, IHSG berarti sudah menguat delapan hari berturut-turut dan tercatat naik 3,3 persen.

 

Kenaikan juga terjadi pada sejumlah emiten yang memiliki afiliasi terhadap tokoh-tokoh yang digadang-gadang sebagai calon menteri. Saham-saham yang naik itu antara lain ADRO, ABBA, SRTG, MPMX, MDIA, dan MARI. Bahkan, saham PT Mahaka Media Tbk (ABBA) yang terafiliasi dengan sosok Erick Thohir menjadi salah satu top gainers dan tercatat naik Rp 14 atau 6,42 persen ke Rp 232.

Bukan hanya IHSG, nilai tukar rupiah juga ditutup menguat jelang pengumuman susunan kabinet baru. Rupiah ditutup menguat 40 poin atau 0,28 persen menjadi Rp 14.041 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp 14.181 per dolar AS.

Ekonom Indef Abra P.G. Talattov menyebutkan, pasar memang merespons positif nama-nama calon menteri yang dipanggil Jokowi. ”Kalau yang saya baca ini memang Pak Jokowi ingin memberikan kejutan ke pasar. Melihat track record nama-nama itu yang sebelumnya sudah santer terdengar, menurut saya memang bisa diterima cukup baik oleh pasar,” ujarnya kepada Jawa Pos.

Selain itu, Abra menjelaskan, Sri Mulyani maupun wajah-wajah baru seperti Nadiem Makarim, Wishnutama, maupun Erick Thohir adalah sosok yang layak dijadikan menteri di bidang ekonomi. Sebab, sepak terjang mereka tak perlu diragukan lagi. ”Nama-nama yang sudah dipanggil cukup kredibel,” imbuhnya.

Tetapi, Abra mengimbau agar siapa pun yang menduduki posisi Menko Perekonomian harus bisa mengarahkan dan menyinergikan kepentingan investasi dalam satu irama. Sebab, sosok Menko Perekonomian merupakan kunci yang diharapkan bisa memperbaiki iklim investasi dan daya saing RI ke depan.

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdullah menuturkan, Sri Mulyani lebih pas menjabat Menko Perekonomian, bukan menteri keuangan. Dia menganggap Menko Perekonomian yang kini dipercayakan kepada Airlangga Hartarto akan menyulitkan sinergi dan koordinasi dengan menteri keuangan.

“Saya pesimistis sinergi antara Menko Perekonomian dan Menkeu bisa berjalan baik. Kemungkinan terbesarnya, Menko Perekonomian tidak banyak berfungsi. Kalah wibawa dengan Menkeu,” jelasnya kemarin.

 

Reporter : far/dee/ken/c9/oni/Jawa Pos

Tentang Penulis: FES

Gambar Gravatar
Professional player, the news media team at Digital Radar Bandung, Jawa Pos group. ▪ Also part of the Team in Pojoksatu Bandung from Radar Bogor.