Memperkenalkan Keberagaman Melalui Medium Wayang

oleh -
Direktur Bandung Wayang Festival, Hermawan Rianto dan perwakilan Coklat Kita, Tries Pondang pada Press Conference Road To Bandung Wayang Festival 2020 di Hanggar Kopi Sunda, Jalan Anggrek nomor 51, Kamis (6/02/2020)

RADARBANDUNG.id, BERTUJUAN – memperkenalkan kesenian wayang kepada generasi milenial, gelaran ‘Bandung Wayang Festival (BWF) 2020’ siap digelar. Untuk mengawali festival wayang terbesar di Bandung ini, akan dimulai dengan Road To Bandung Wayang Festival yang berlangsung di Cihampelas Walk pada 8-9 Februari.

BWF pertama kali dilaksanakan pada 22-30 April 2011. Didahului dengan Road To Bandung Wayang Festival, pada 5 Desember 2010 digelar sebagai city event di Bandung. Event utama dari seluruh rangkaian BWF yang digelar 9 tahun lalu ini diikuti oleh 900 seniman dari berbagai pertunjukan wayang. Media promosinya pun menggunakan berbagai bentuk, mulai dari wayang tradisi hingga musik dan film serta pameran.

Tahun ini, festival wayang tersebut mengangkat tema keberagaman yang disalurkan melalui media seni wayang. Direktur BWF, Hermawan Rianto menuturkan keragaman wayang ini terlihat dari latar belakang budaya, agama, serta cerita yang akan dimainkan, juga beberapa ragam visual, filosofi hingga pendekatan baru untuk menyampaikan pesan.

“Ambisius kami adalah generasi milenial yang memang jadi target penonton. Bandung kami pilih sebagai tempat acara karena menurut saya sebaik-baiknya festival wayang, sebaiknya di tempat wayang tertua yaitu wayang golek,” katanya saat Press Conference Road To Bandung Wayang Festival 2020 di Hanggar Kopi Sunda, Jalan Anggrek nomor 51, Kamis (6/02/2020).

Pada acara nanti, ada 3 kegiatan utama yang ditampilkan. Pagelaran wayang Potehi Rumah Cinwa yang dimainkan mahasiswa Universitas Indonesia. Hermawan menerangkan dia punya dua pilihan orang yang memainkan pertunjukan wayang Potehi, pertama oleh dalang asal Surabaya atau mahasiswa UI.

“Target utama ini adalah generasi muda yang diharapkan menjadi penerima estafet penerus budaya wayang. Maka dari itu saya pilih mahasiswa UI karena mereka masuk generasi milenial,” jelasnya. Kemudian, wayang Ringkang yang dalam pertunjukannya dimainkan oleh 45 dalang.

Ia menambahkan pemilihan wayang asal Jawa ini karena mampu mempertontonkan adegan kolosal secara fisik dengan baik. Biasanya dalam penampilan wayang tradisi, ketika adegan kolosal, pesan yang disampaikan hanya melalui narasi, sebab jadi halangan oleh dalang yang bertugas. “Wayang Ringkang mampu menayangkan pertempuran kolosal,” imbuhnya.

Lalu, pertunjukan wayang Tavip dari pengajar kampus Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung yakni M Tavip. Wayang Tavip sendiri adalah wayang modern yang menjembatani tradisi. Jenis wayang ini diambil dari nama belakang M Tavip, pria kelahiran Lampung yang mengembangkan wayang kulit menjadi lebih modern.

Hermawan mengungkapkan wayang Tavip ketika dilayar akan menampilkan warna sehingga tidak monoton seperti wayang kulit. Terbuat dari limbah plastik, wayang ini didesain dengan ekspresi dan visual khusus untuk mengekspresikan cerita.

Selain 3 acara utama, pada Road To Bandung Wayang Festival juga digelar workshop pembuatan wayang limbah, workshop alat musik tradisi (suling dan karinding), dan wayang daun singkong. Acara yang didukung Coklat Kita ini juga menghadirkan pojok Napak Jagat Pasundan dengan berbagai penampilan tradisi didalamnya.

Perwakilan Coklat Kita, Tries Pondang mengatakan pihaknya sangat mendukung acara bertema kebudayaan ini. Sejalan dengan beberapa program Coklat Kita dalam hal pengembangan kebudayaan, Tries berharap acara yang digelar di ruang publik Cihampelas Walk bisa menarik para pengunjung untuk menonton.

“Ada beberapa kegiatan yang bersinggungan dengan budaya, seperti Napak Jagat Pasundan yang fokus mengembangkan seni tradisi disetiap daerah di Jabar. Makanya di acara ada pojok NJP yang mengedukasi dan ada workshop,” ucapnya.

(fid)