150 Pipa Tembakau Berbagai Bentuk Dipamerkan

oleh -
Pengunjung mengamati alat bakar tembakau Pipa dalam Festival Piparaya Indonesia 2020 di Jalan Braga, Kota Bandung, Sabtu (29/2/2020).

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Sebanyak 150 pipa tembakau beragam bentuk dan ukuran dipamerkan dalam acara Festival Piparaya Indonesia 2020 di Gedung Bandung Creative City Forum (BCCF), Jalan Braga, Kota Bandung, kemarin. Festival akbar yang diselenggarakan oleh para pemipa dari Bandung Pipe Smoking Club (BPSC), Jakarta Pipe Club dan Bogor Tobacco Lover tersebut bertujuan untuk lebih memasyarakatkan pipa.

Salah seorang perintis BPSC, M Rinaldi menerangkan, secara umum, 150 pipa yang dipamerkan terdiri dari dua jenis pipa, yakni pipa yang terbuat dari bonggol jagung (corn cob) dan pipa kayu Briar. Khusus Corn Cob, pipa yang dipamerkan dari mulai harga Rp100 ribu hingga Rp1,5 juta. Perbedaan harga ditentukan oleh model. Semakin rumit pembuatan, harganya pun dibandrol semakin tinggi.

“Ketahanannya beragam, dari mulai usia pemakaian untuk satu bulan sampai enam bulan. Biasanya digunakan oleh pemipa pemula,” imbuh Rinaldi kepada Radar Bandung.

Keunikan cita rasa yang dimiliki oleh Corn Cob, sambung Rinaldi, terletak pada aroma. Ketika membakar tembakau di pipa Corn Cob, aroma jagung dikatakan akan sedap menyeruak. Dalam sejarahnya, Corn Cob merupakan inovasi yang mulanya berkembang di Amerika. Corn Cob dianggap sebagai salah satu alternatif dari pipa kayu Briar.

“Di Amerika kayu Briar tidak tumbuh. Dulu, masyarakat di sana akhirnya membuat pipa dari bahan yang ada, yakni bonggol jagung,” terang Rinaldi.

Adapun, pipa-pipa jagung yang dimaperkan merupakan buatan perusahan Amerika Missouri Meerschaum Company, koleksi pribadi Satria Panji dari Bogor Tobacco Lover.

“Ini koleksi dia pribadi. Selain pipa jagung, dia pun mengoleksi pipa Briar,” imbuhnya.

Koleksi yang tak kalah memukau dipamerkan adalah pipa-pipa kayu briar. Menurut Rinaldi, pipa tersebut menjadi yang paling umum digunakan oleh pemipa di dunia. Penggunaan kayu briar sebagai pipa bukan tanpa alasan, kayu jenis tersebut menjadi jenis yang paling tahan api.

“Untuk bahan kayu briar ini diimpor dari Italia. Kayu briar dari Italia masih dianggap nomor satu,” tambah Rinaldi.

Dalam pameran tersebut, diakui Rinaldi, terdapat pipa kayu briar yang paling tua, yakni berumur sekitar 5000 tahun.

“Untuk harga, pipa yang dipamerkan berkisar dari Rp100 ribu, bahkan sampai Rp100 juta,” timpal Rinaldi.

Sementara itu, Rinaldi pun turut menyinggung mengenai perkembangan produksi pipa di Indonesia, khususnya Kota Bandung. Rinaldi menilai, kualitas pipa buatan lokal pun tak kalah kualitas. Bandung termasuk kota dengan produksi pipa yang diperhitungkan di level internasional.

Meski di Indonesia kayu briar tak tumbuh, namun para pengrajin pipa atau Pipe Maker disebut tak kehabisan akal. Banyak bahan alternatif yang diolah oleh mereka, seperti pipa yang terbuat dari akar-akar kayu yang tumbuh di tanah Indonesia.

“Beberapa kayu yang bisa dijadikan pipa misalnya kayu djati, kayu besi atau kayu amboyna,” pungkasnya.

(muh)