Wortel Kuroda Asal Jepang Jadi Andalan Produk Pertanian Kabupaten Bandung

oleh -

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Ittifaq, Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung berhasil membudidayakan produk pertanian yaitu, Wortel Kuroda. Varietas sayuran asal Jepang tersebut berbeda dengan produk lokal. Dari segi gizi, Wortel Kuroda mengandung beta karoten dan vitamin C lebih tinggi.

Keberhasilan budidaya Wortel Kuroda tak lepas dari Proyek Kemitraan Publik-Swasta untuk Perbaikan Sistem Pemasaran dan Distribusi Produk Pertanian (IJHOP4) dari Japan International Cooperation Agency (JICA).

“Ya’ keberhasilan disektor pertanian ini merupakan kerjasama kami (Ponpes Al-Ittifaq) dengan IJHOP4 dari JICA,” ucap CEO Koperasi Ponpes Al-Ittifaq, Setia Irawan, Selasa (3/3/2020).

Irawan mengungkapkan, kerja sama budidaya Wortel Kuroda sudah dibangun dalam kurun waktu dua tahun terakhir. Dari segi ukuran, wortel asal negeri sakura itu lebih besar dan padat serta panjang bisa 12-18 sentimeter dengan diameter 3-4 sentimeter.

“Wortel Kuroda banyak diminati pasar. Permintaannya bisa 5 ton tiap minggu,” ujar Irawan.

Irawan menjelaskan, dari sisi nilai jual Wortel Kuroda lebih tinggi dibanding dengan wortel lokal. Rata-rata wortel lokal dibanderol dengan harga Rp4.000 per kilogram. Sedangkan harga Wortel Kuroda Kuroda dengan kualitas A bisa mencapai Rp38.000 per 800 gram di supermarket.

“Keuntungannya bisa berkali lipat. Artinya, jika permintaan pasar terpenuhi, berapa ribu petani yang bisa terbantu ekonominya dengan hasil pertanian ini,” tuturnya.

Dalam kesempatan yang sama, Project Team Leader IJHOP4, Nishimura Tsutomu menjelaskan, proyek kerjasama ini secara tidak langsung membantu petani dalam pendistribusian produk holtikultura (Wortel Kuroda), tanpa harus singgah kepada perantara seperti pedagang lain, sebelum sampai ke supermarket.

“Tujuan proyek ini adalah sentra produksi sayuran, dikirim ke Jakarta,” ungkapnya.

Kata Nishimura, proyek IJHOP4 sudah dimulai sejak 2016 dengan total 6 kali percobaan di musim hujan dan musim kemarau. Dalam kurun waktu tiga tahun, sebanyak 1.396 petani terlibat.

“Di Kabupaten Bandung ada tiga kecamatan lain yang difokuskan selain Rancabali, yakni Pasirjambu, Pangalengan dan Kertasari. Proyek ini juga telah dilakukan di Kabupaten Bandung Barat, Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Garut,” paparnya.

“Proyek JICA juga menyediakan tiga konsep soal sistem produksi, usai panen dan proses distribusi, serta akses pasar dan akses keuangan,” sambungnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Holtikultura Dinas Pertanian, Kabupaten Bandung, Jumhana mengakui, produk holtikultura dari Proyek Kemitraan Publik Swasta IJHOP4 dari JICA sangat bermanfaat dan membantu masyarakat khsusunya di Desa Alamendah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Bandung akan terus mendukung budidaya Wortel Kuroda seiring tingginya permintaan pasar. Pihaknya juga siap memfasilitasi segala kebutuhan seperti menggandeng lebih banyak para petani sayuran untuk menanam Wortel Kuroda dan bisa bekerjasama dengan Ponpes Al-Ittifaq.

“Peran kami selain pendampingan dan pembinaan, juga menyediakan dana dari APBD Kabupaten Bandung untuk meningkatkan kualitas SDM melalui pelatihan, termasuk kami siap beri bantuan alat,” jelasnya.

Radar Bandung berkesempatan mengikuti panen dan usai panen Wortel Kuroda di Ponpes Al-Ittifaq. Setiap sistem penanaman Wortel Kuroda harus sesuai dengan SOP JICA dari Proyek IJHOP4.

Meski terdengar sulit, namun pada pelaksanaanya tidak terlalu sulit. Dalam satu tumpukan tanah ada dua baris wortel. Kemudian setiap jarak tanam tak lebih dari dua jari orang dewasa. Dari pemeliharaannya juga tidak terlalu ribet. Tanaman cukup diberi pupuk alami dari kotoran hewan hasil ternak para santri.