Pameran 30×30 Art For The Earth Hadir di Kota Bandung

oleh -
Pengunjung mengamati salah satu karya seni dalam pameran Art for the Eart di Galeri Thee Huis Gallery, Dago Teahouse, Senin (9/3). Foto: Taofik Achmad Hidayat/Radar Bandung

RADARBANDUNG.id, BANDUNG- Kekhawatiran akan bumi di masa depan banyak dikisahkan di film-film apocalypse.

Fiksi ilmiah yang mengisahkan alam ini dianggap bisa mengedukasi masyarakat tentang riskannya kondisi bumi yang semakin tua.

Ini menjadi benang merah dari pameran dengan judul ’30×30 Art for the Earth’ yang berlangsung di Thee Huis Gallery, Dago Tea House, 7-17 Maret.

Baca Juga:

Mengenalkan Sanento Yuliman sang Kritikus Seni

Backstage, Film Duet Perdana Kakak Beradik Vanesha Prescilla dan Sissy Prescilia

Kurator Thee Huis Gallery, Diyanto dalam keterangan kuratorial menerangkan Art for the Earth tidak digagas secara terburu-buru demi mendapatkan hasil pameran yang sesuai. Namun tujuan dari masing-masing karya menghasilkan benang merah yang bisa didapat pengunjung.

Batas ukuran yang ditentukan pada bidang gambaran, maupun dimensi yang dijadikan patokan bersama, kata Diyanto, bukanlah ketetapan yang membatasi ekplorasi.

“Kecil itu ‘indah’ atau apapun yang analogi sehingga bisa dilekatkan padanya, tentu adalah serpihan penghargaan yang menyangkut estetika masing-masing karya,” katanya, Senin (9/3).

Art for f the Earth melibatkan 87 perupa dengan gabungan seni lukis dan instalasi. Kebanyakan, lukisan-lukisan yang dipajang menggambarkan kegelisahan akan kondisi bumi yang semakin memprihatinkan. Mulai dari pemanasan global, pepohonan ditebang, sampai pemukiman padat penduduk.

Sekurangnya, ada tiga hal yang mau dipesankan lewat pameran ini. Pertama, gagasan mengenai ‘order teks’ yang menjadi modus penciptaan karya para perupa, kata Diyanto mereka nampak berhasrat untuk menelaah gambar yang jadi objek pameran.

Kedua, dalam banyak aspek, inisiatif untuk melakukan pameran bersifat ‘road show’ ini berupaya untuk menjalin ikatan emosional di antara para perupa yang tinggal dan bekerja di tempat berbeda.

“Para perupa di sini sejak awal sudah menentukan apa masalah yang mau diangkat. Sehingga ketika eksekusi pengunjung bisa merasakan masalahnya dari setiap karya yang ditampilkan,” sambungnya.