Batik Komar Virtual Exhibition Hadirkan Motif Megamendung

oleh -
Pemilik Batik Komar, Komarudin Kudiya, saat mengunjungi pameran Batik Komar Virtual Exhibition, Hadirkan Motif Megamendung di Galeri Batik Komar, Jalan Cigadung Raya, Kota Bandung, FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG

Batik Komar Virtual Exhibition Hadirkan Motif Megamendung

RADARBANDUNG.id, BANDUNG- Industri kesenian ikut terdampak penyebaran virus corona. Banyak agenda kesenian yang seharusnya berjalan di sepanjang tahun 2020, akhirnya tertunda sampai waktu tidak terbatas.

Baca Juga: Virus Corona Bikin Kedai Kopi di Bandung Ini Turun Omzet hingga 300%

Salah satunya, Batik Komar yang seharusnya menyelenggarakan exhibition di Jakarta, kini menggantinya dengan pameran online bertajuk ‘Batik Komar Virtual Exhibition: Vol 1 Megamendung’.

Ini menjadi kali pertama, Batik Komar menyelenggarakan pameran dalam bentuk online.

Baca Juga: #diRumahaja, Jangan Lupa Cicipi Menu Makanan Khas Hotel Bintang 5 Crowne Plaza Bandung

Biasanya, mereka membuka kunjungan galeri yang berlokasi di Jalan Cigadung. Meski begitu, penikmat seni tetap bisa menyaksikan ragam kain batik bermotif Megamendung lewat tayangan video di media sosial Instagram dan YouTube.

Batik Komar Virtual Exhibition: Vol 1 Megamendung berlangsung pada Jum’at 24 April hingga 1 Mei 2020.

Sebanyak 35 koleksi batik Megamendung dipamerkan dalam bentuk visual dengan ragam corak dan warna yang indah.

Batik-batik ini dipamerkan sekaligus dalam upaya mengembalikan popularitas batik di tengah pandemi virus. Pasalnya, selama pandemi terjadi sejak awal bulan Maret, omzet penjualan batik tidak stabil.

Pemilik Batik Komar, sekaligus Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBNI), Komarudin Kudiya menuturkan, virtual exhibition menampilkan puluhan koleksi dari 400 koleksi Megamendung yang mereka buat.

Batik-batik yang dipamerkan sudah dibuat sejak enam bulan dan dipersiapkan dengan sangat matang.

“Beberapa event pameran yang rencananya digelar menjelang Lebaran semua dibatalkan sejak bulan Maret. Sementara produksi batik kita semuanya sudah disiapkan sejak 6 bulan lalu, karena pembuatan batik tulis memakan waktu 4-7 bulan,” kata Komar saat dihubungi.

Baca Juga: #MakandiRumahaja ala de Braga by ARTOTEL

Sudah telanjur diproduksi, mau tidak mau Komar tetap harus menyelenggarakan pameran, supaya kain yang dibuat tidak lekang waktu.

Dibantu 200 pekerja batik di usahanya, kain-kain kemudian dipajang di galeri sebagaimana mestinya. Desainnya pun beragam, ada kain panjang, blouse, kemeja, sampai busana muslim.

Komar mengungkap, kondisi pandemi yang sedang terjadi sangat berpengaruh pada usaha batiknya. Terhentinya proses produksi, membuat dia harus putar otak supaya bisa tetap membayar karyawan yang sudah membantunya.

Baca Juga: Noka Coffee, Hadirkan Cerita Petani di setiap Minumannya

“Kami kan punya pekerja yang membantu, kalau saya ada pekerja bulanan dan harian, yang bulanan sekitar 50 orang, harian 175 orang. Pekerja bulanan mereka dibayarnya ya setiap bulan, kalau bulanan ini kan mereka punya keluarga yang harus dikasih makan, jadi kami beri setiap harinya Rp 25 ribu,” jelas Komar.

Meski begitu, ia masih terus berjuang supaya pekerjanya tetap bisa bekerja seperti biasa, salah satunya menginisiasi virtual exhibition vol 1 bersama istri dan anaknya. Rencananya akan ada bagian selanjutnya dari virtual exhibition dengan motif yang lebih beragam.

Beberapa tema yang sudah disiapkan adalah Buketan, motif Batik Pagi Sore, Batik Tiga Warna, Shibotik (Shibori Batik), dan ragam batik Jawa Barat lainnya.

Untuk bagian pertama, ia mengambil tema Megamendung karena motif tersebut berasal dari Kota Cirebon, tanah kelahiran Komar.

Selain itu, motif Megamendung memiliki ciri khas garis-garis awan yang berbentuk lonjong, lancip dan segitiga yang berbeda dari motif lainnya.

(fid/radarbandung)