Cerita Warga Bandung Hindari PSBB: Toko Cat Pajang Karung Beras, Ada Warga Ngumpet di Tumpukan Barang

oleh -
Yah Kalau Kondisinya Begini, PSBB Kota Bandung Bisa Diperpanjang
Ilustrasi: Kendaraan di lokasi checkpoint Pasteur dalam pelaksanaan PSBB.

Cerita Warga Bandung Hindari PSBB: Toko Cat Pajang Karung Beras, Warga Rela Diam di Tumpukan Barang

RADARBANDUNG.id, BANDUNG- Dalam pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Bandung Raya, warga makin kreatif kucing-kucingan dengan petugas.

Sekda Kota Bandung Ema Sumarna mengatakan, pernah ada warga yang rela ada di tumpukan barang demi bisa melewati perbatasan Kota Bandung. Selain itu, juga ada pedagang non pangan yang mulai memanipulasi dagangannya.

“Jadi sebenarnya si pemilik toko ini jualan cat, tapi dia memajang ada beberapa karung beras. Sehingga dari luar seperti penjual sembako,” ungkap Ema.

Ada juga yang membuka tokonya hanya satu pintu. Padahal biasanya dibuka lebih lebar. Hanya sebagai penanda bahwa dirinya berjualan.

Ema mengatakan, hal itu tidak dibenarkan. Seharusnya hal itu tidak terjadi, di saat semua orang tengah berusaha menekan laju pertumbuhan Covid-19.

Menurut Ema, sekarang memang masih banyak pedagang yang bukan pedagang bahan makanan masih buka. Seperti toko kain, toko emas, sampai toko mebel.

Karenanya, Ema mengatakan Pemkot Bandung akan memperketat pemberlakuan PSBB. Termasuk jam jaga checkpoint, yang selama ini dijaga dari pukul 06.00-20.00 WIB.

“Harus diantisipasi, bagaimana jika ada yang melintas sebelum jam 06.00 atau setelah jam 20.00. itu nanti akan dievaluasi,” jelasnya.

Selain itu, standar pemberlakuan setiap checkpoint seharusnya sama. Terutama untuk para pengendara sepeda motor yang yang berboncengan.

“Mungkin ada di beberapa titik yang masih memperbolehkan, padahal kan seharusnya sudah tidak boleh, meskipun mereka satu KTP,” tegasnya.

Namun, secara umum, Ema melihat ada pergeseran kebiasaan warga Kota Bandung. Karena sekarang, pada umumnya sudah menggunakan masker saat berkendara.

“Yang masih banyak pelanggaran mungkin sekarang di penggunaan sarung tangan. Masih sekitar 20-30 % warga yang menggunakan sarung tangan saat berkendara,” terang Ema.

(mur)