Melukis dalam Pameran Daring ‘Potret: Tak Kenal Maka Tak Sayang’

oleh -
Karya seni lukis pada pameran bertajuk "Potret: Tak Kenal Maka Tak Sayang" yang digelar secara daring, mengingat kondisi di tengah pandemi Covid-19.

Melukis dalam Pameran Daring ‘Potret: Tak Kenal Maka Tak Sayang’

RADARBANDUNG.id, BANDUNG- Berlangsung secara daring, pameran ‘Potret: Tak Kenal Maka Tak Sayang’, menghadirkan ragam potret dalam gambar yang terpajang.

Dua seniman asal Jawa Barat, Jamil Supriatna dan Toni Antonius menginisiasi pameran daring di Galeri Orbital Dago, 20 April-30 Mei 2020.

Potret dalam tradisi seni lukis terutama seni lukis modern (Barat) merupakan subyek yang tidak pernah berhenti untuk digali.

Ada banyak wacana mengenai praktik melukis maupun membuat potret yang dicatat para ahli, mulai dari patung batu hingga fotografi yang klasik sampai hari ini.

Dalam kehidupan sehari-hari, potret sudah bukan lagi menjadi hal yang tabu, bahkan terkesan membludak. Terutama yang dihasilkan oleh fotografi digital dan disebarkan melalui media sosial.

Meneropong praktik seni lukis potret dari zaman ke zaman, Jamil dan Toni menghadirkan seni potret yang masing mengambil potret diri berbeda pada setiap karyanya.

Jamil Supriatna menghadirkan berbagai potret orang dari kalangan seniman atau tokoh-tokoh dunia seni di Bandung, yang dia kenal atau tidak sama sekali.

Pada karyanya kali ini, Jamil bercerita kalau dia mendapat tawaran dari seorang kurator yang mengapresiasi karya seni lukis potretnya untuk ditampilkan dalam sebuah pameran.

Jamil melukiskan potret tersebut dengan kecenderungan ekspresif, tidak mengikuti kaidah melukis realistik, sehingga terjadi distorsi di sana-sini. Hasilnya, ada 95 potret diri yang dia ambil dari foto-foto yang dikirim oleh sang kurator.

“Hasilnya berbeda-beda. Saya gak bisa membuatnya sama dengan kekhasan atau identitas orang yang dilukis. Hasilnya ada yang mirip, hampir mirip, atau yang sama sekali tidak dikenali,” kata Jamil, Senin (27/4).

Meski tidak 100 persen, Jamil membubuhkan setiap nama tersebut disetiap kanvas. Pembubuhan nama di atas kanvas justru membuat lukisannya menjadi terasa penuh humor karena seperti menandai suatu peribahasa ‘Tak Kenal Maka Tak Sayang’.

Beberapa nama yang tampak familier pada seni lukis potret Jamil, seperti John Martono, Aaron Seto, Ade Darmawan, Andarmanik, Cinanti Astria, Ciputra (alm), Dikdik Sayahdikumulah dan masih banyak lagi. Karya Jamil merefleksikan bahwa mengenali subjek dalam melukis potret itu bisa penting atau tidak.

“Orang yang saya kenali secara dekat atau kagum tentunya sering diingat, sehingga saya bisa menangkap penuh citranya. Sedangkan orang-orang yang tidak pernah saya temui atau kenal benar, hanya tau dari sekilas dari layar ponsel ya dikerjakan sekenanya dan sering juga melenceng,” jelasnya.

Jamil Supriatna, pria kelahiran Bogor, 60 tahun silam ini mengawali karirnya sebagai seniman lukis ketika tinggal di Pulau Dewata, Bali. Dia semula dikenal sebagai pelukis naif yang banting setir jadi pelukis potret. Katanya, seni potret tidak sengaja dia pelajari sejak dua tahun lalu, tepatnya ketika berlangsungnya gelaran Bdg Connect. 2018.

Berbeda dengan Jamil, seniman Toni Antonius memiliki lukisan dengan kecenderungan foto-realis dan menggunakan logika kolase atau seperti potongan-potongan foto yang ditempel atau kadang menumpuk.

Toni melukis potret tokoh-tokoh seni rupa kontemporer Barat, seperti Lucian Freud, Jeff Koons, Chuck Close, dan Francis Bacon dengan berbagai gaya dan latar karya-karya lukisan mereka.

“Selain melukis potret, saya juga suka kolase. Makanya disini saya mengkombinasikan potret diri dan kolase. Penyelesaiannya pun dilakukan dengan digital, jadi scan dan printing,” kata Jamil.

Sebagai penikmat, Toni menyebut karya miliknya akan kurang familiar di mata penikmat seni. Pasalnya dia benar-benar menggabungkan potret diri dan seni kolase yang dia perbesar. Toni mampu menghampiri setiap karya mereka, seolah memindainya, dan menyusun kembali secara imajiner.

Tetapi kalau dilihat lebih dekat, akan tampak seseorang yang dia sembunyikan pada setiap tempelan gambar.

Lukisan potret dengan topeng ini menandai bahwa ada juga identitas yang loyang atau laten dalam suatu jati-diri, terutama ketika berhadapan dengan politik identitas yang selalu terjadi di Indonesia.

Toni Antonius mengawali karirnya sebagai seniman di tahun 2009 saat menggagas gelaran pertama Internasional Mail Art Exhibition, Sanggar Olah Seni, Bandung. Untuk membuat satu buah karyanya, dia membutuhkan waktu satu bulan karena ornamen detail dari tempelan-tempelan gambar yang harus dia perhatikan.

Pameran ‘Potret: Tak Kenal Maka Tak Sayang’ dilakukan secara daring melalui akun Instagram @orbitaldago dan website resmi di www[dot]Orbital Dago[dot]com.

(fid)