Sektor Pendidikan Harus Memiliki Orientasi Adaptasi dengan Perkembangan Teknologi Hingga Pandemi

oleh -
Ketua Ikatan Alumni (IKA) UPI Enggartiasto Lukita ( Dok. Probadi)

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Sektor pendidikan harus bisa tanggap melakukan perubahan yang terus terjadi karena perkembangan teknologi atau karena faktor pandemi virus. Orientasi perubahan ini sangat penting agar target Indonesia Emas 2045 bisa terealisasi.

Demikian benang merah pernyataan sejumlah tokoh Dr (HC). Enggartiasto Lukita, Prof. Sunaryo Kartadinata, Prof Nizam, dan Prof Muhammad Ali, dalam konteks hari pendidikan nasional.

“Sekali lagi ditekankan, bahwa dengan perubahan yang terjadi saat ini, kita harus meraba betul bagaimana perubahan pola hidup di seluruh dunia dan meraba apa yang seharusnya kita lakukan dengan perubahan ini, terutama kaitannya dengan dunia pendidikan,” kata Ketua Ikatan Alumni (IKA) UPI Enggartiasto Lukita di Jakarta, Jumat (8/5/2020).

Pria yang pernah menjabat sebagai Menteri Perdagangan ini menyampaikan bahwa di era Revolusi Industri 4.0 ini, sektor pendidikan harus menyesuaikan diri dengan berbagai perubahan yang ada. Apalagi dengan adanya pandemi, banyak hal baru yang harus disesuaikan dengan metode pembelajaran dan tuntutan dalam dunia kerja.

Semuanya harus saling bersatu bahu-membahu memajukan negeri ini tanpa harus memandang perbedaan agama, ras, suku dan sikap politik. Dia mengapresiasi terbentuknya Pena Bakti Institute yang digagas Fauzan, salah satu alumni UPI untuk pemberdayaan dan advokasi kebijakan pendidikan.

Sementara, Ketua Umum ISPI, dan Duta Besar RI untuk Uzebkistan, Prof. Sunaryo Kartadinata, menyebutkan bahwa peran pendidikan saat ini dalam konteks Indonesia Emas adalah menyiapkan manusia Indonesia masa depan yang akan hidup pada era 2045. Untuk menyiapkan manusia Indonesia yang unggul itu, perlu dibangun tujuh kondisi.

Ketujuhnya adalah misi pendidikan, keutuhan mindset pendidikan, strategi kebudayaan, pendidikan kehidupan nyata, karakter dan budaya damai, guru pemikir dan kepemimpinan pedagogis transformatif. “Jika 7 kondisi tersebut telah kokoh, maka pada tahun 2045 nanti kita akan menjadi bangsa pendidikan, bangsa inovasi dan generasi emas, “ kata mantan Rektor UPI ini yang juga dibeber juga dalam Webinar Pena Bakti bertema “Pendidikan untuk Indonesia Emas 2045”.

Di sisi lain, Prof. Nizam mengungkap senada. Dirjen Pendidikan Tinggi Kemendikbud ini menjelaskan, arah kebijakan dan strategi pemerintah untuk pemerataan pendidikan yang berkualitas memang ditujukan untuk membentuk manusia Indonesia nan berkulitas.

Pengembangan anak usia dini holistik integrative, afirmasi pendidikan, pemenuhan sarana prasarana pendidikan yang berkualitas, profesionalisme adalah diantara poin yang dilakukan. Ada juga peningkatan kualitas, pengelolaan dan penempatan guru; pembelajaran keterampilan abad 21; dan percepatan wajib belajar 12 tahun, di dalam rancangan dunia pendidikan nasional kini.

Sedang Prof Muhammad Ali mengutarakan, dengan berbagai perubahan dan tantangan yang ada saat ini, ada tiga kompetensi yang harus dimiliki oleh manusia Indonesia. Kompetensi ini adalah kompetensi kognitif, kompetensi menggunakan teknologi digital, serta kompetensi afektif yaitu memiliki karakter. “Dan terakhir kompetensi survival yaitu kecakapan belajar sepanjang hayat” ungkap Guru Besar UPI ini.

Terhadap program pendidikan pemeirntah, Wakil Ketua Komisi X Hetifah Sjaifudian, Ph. D. memaparkan, satu-satunya sektor yang mendapat proporsi anggaran dari APBN adalah sektor pendidikan, yaitu sebesar 20%. Namun dari anggaran itu pun tersebar ke berbagai sektor (18 lembaga dan kementerian), termasuk program Kartu Prakerja menggunakan dana yang berasal dari APBN fungsi pendidikan.

DPR, ditegaskannya akan memastikan program ini berjalan baik, dari sisi legislasi yaitu memastikan perundang-undangan yang dibuat berkualitas, dan memastikan anggaran dialokasikan untuk program-program pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

(rls)