Dibalik Lucunya Badut Hello Kitty Tamansari, Sopir Angkot yang Tengah Banting Tulang Hidupi Keluarga

oleh -
Hasanudin tengah duduk menjadi badut Hello Kitty di Jalan Tamansari, Coblong, dekat Badan Tenaga Nuklir Nasional. FOTO: MUCHAMAD DIKDIK R ARIPIANTO/RADAR BANDUNG

Dibalik Lucunya Badut Hello Kitty Tamansari, Sopir Angkot yang Tengah Banting Tulang Hidupi Keluarga

RADARBANDUNG.id, BANDUNG- Hasanudin (43) telah menjadi sopir angkot jurusan Cisitu-Tegalega sejak 24 tahun lalu. Namun, wabah Covid-19 membuat penghasilannya merosot.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sudah seminggu ini ia banting setir menjadi badut Hello Kitty setiap pukul 14.00 hingga menjelang magrib di kawasan Jalan Tamansari, Coblong, dekat Badan Tenaga Nuklir Nasional.

“Jadi, dari pagi sampai siang saya narik angkot. Dari siang sampai menjelang magrib saya jadi badut,” ujarnya.

Saat pandemi dan pemberlakuan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Kota Bandung, penghasilannya sebagai sopir angkot hanya bisa mencapai Rp 10 ribu – Rp 15 ribu rupiah saja setiap harinya.

Bahkan tak jarang, pendapatannya habis cuma untuk bensin dan uang setoran. Tak ada sisa yang bisa ia bawa pulang ke rumah.

Udin- begitu ia biasa disapa- mengaku, kondisi sulit ini sudah lebih dari dua bulan terakhir ia rasakan. Dalam sehari rata-rata ia hanya mengangkut dua hingga lima penumpang.

“Warga banyak yang tidak keluar rumah. Selain itu, ada batasan (penumpang) angkutan juga. Rute yang saya lewati (Pasar Baru) terputus karena PSBB,” ujarnya.

“Dengan penghasilan sebesar itu tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan. Misalnya untuk kontrakan Rp600 ribu per bulan. Sudah dua bulan saya masih nunggak,” tambahnya.

Karena itu, Udin mencari sampingan. Kebetulan, ia ditawari tetangganya menjadi badut. “Ibu Sumami (tetangganya) yang punya kostumnya. Saya setor ke dia. Setiap hari penghasilan jadi badut dibagi dua,” ucapnya.

Menjadi badut, Udin rata-rata mengantongi uang Rp30 ribu hingga Rp40 ribu dalam sehari. Selain itu, ia mengaku sempat beberapa kali mendapat pemberian, seperti takjil, makanan, sembako atau kadang uang dari para pengendara yang melintas di jalan biasa bekerja mengais rezeki.

Saat ini, Udin yang hidup bersama seorang istri dan dua anaknya hanya bisa berharap situasi segera membaik. “Untuk sementara saya akan seperti ini. Narik angkot dan jadi badut saja dan beharap kondisi bisa lebih baik,” tukasnya.

(muh/radarbandung.id)