Sementara, Lebaran Online Dulu

oleh -

Sementara, Lebaran Online Dulu

OLEH: Khofifah Indar Parawansa

BISA jadi, sebagian besar umat Islam di Indonesia merasa prihatin dengan perayaan Idul Fitri tahun ini. Rutinitas berkumpul dengan sanak keluarga, bersalaman, dan bersilaturahmi sebagaimana Lebaran tahun-tahun sebelumnya harus tertunda. Pemerintah mengeluarkan imbauan untuk sementara tetap berada di rumah dulu.

Kebijakan yang mungkin sulit diterima masyarakat. Tapi, ini bertujuan untuk kebaikan bersama. Sesuai kaidah fikih, mencegah mafsadat harus didahulukan daripada mengambil manfaat. Saat ini, berkerumun menjadi satu aktivitas yang memiliki tingkat risiko yang sangat tinggi. Persebaran virus Covid-19 sangat besar muncul dari kerumunan tersebut.

Saya meyakni bahwa sebagian besar orang kecewa ketika dilarang berkumpul. Silaturahmi sangat penting. Silaturahmi memperpanjang usia dan melancarkan rezeki. Tapi, silaturahmi menjadi persoalan jika kemudian memunculkan masalah baru.

Semua tahu bahwa pandemi Covid-19 belum rampung. Tidak ada yang tahu kapan pandemi ini rampung. Standar protokol pencegahan penularan Covid-19 menyatakan cara paling efektif memutus rantai persebaran virus adalah menjaga jarak dan menghindari kerumunan. Karena itu, langkah yang terbaik saat ini adalah inisiatif kita untuk menunda silaturahmi secara langsung.

Namun, langkah itu tidak berarti silaturahmi tersebut dilarang. Hanya, metode silaturahmi yang diubah.

Allah telah mengaruniakan kecerdasan kepada manusia sehingga muncul teknologi informasi, yang di dalamnya ada kecanggihan internet yang memungkinkan silaturahmi secara virtual. Mereka yang jauh bisa menjadi dekat.

Teknologi tersebut menjawab kebutuhan masyarakat di masa pandemi ini. Sementara, Lebaran online dulu.

Menghindari kerumunan adalah bagian dari ikhtiar manusia menghadapi Covid-19. Dan, ikhtiar adalah tahapan yang harus dijalani manusia saat ingin mendapatkan sesuatu.

Tahapan untuk berproses. Semua orang ingin pandemi Covid-19 selesai. Ikhtiar harus dijalankan siapa pun.

Langkah ikhtiar sudah jelas. Social dan physical distancing harus diterapkan. Keperluan untuk silaturahmi dilaksanakan secara virtual. Semua itu menjadi bagian dari ikhtiar. Di dalamnya, terdapat upaya menghindari kemudaratan.

Saya meyakini bahwa menjalani ikhtiar akan membawa hasil yang bermanfaat. Entah kapan manfaat itu diturunkan Allah. Yang jelas, tahapan manusia saat ini adalah ikhtiar. Setelah ikhtiar dilaksanakan, tahap selanjutnya adalah tawakal. Berserah diri kepada Allah.

Banyak contoh kerumunan membawa dampak negatif di masa ini. Klaster yang muncul dari kerumunan orang di pasar adalah bukti nyata.

Saya meyakini bahwa semua orang tidak ingin fenomena klaster pasar muncul kembali. Karena itu, mari berikhtiar sejenak. Menahan dan menunda keinginan untuk bertemu saudara secara langsung.

Di sisi lain, menunda aktivitas silaturahmi secara langsung sangat menghargai tenaga medis yang sedang menjalankan tugasnya merawat pasien Covid-19 di sejumlah rumah sakit.

Saat ini, mereka berjuang menyelamatkan ribuan nyawa manusia yang terkonfirmasi positif. Sejenak mereka lupa bahwa nyawanya juga terancam.

Tenaga medis lebih fokus pada penyembuhan pasien. Mereka mengesampingkan urusan keluarga. Mereka, baik dokter, perawat, maupun lainnya, juga menunda untuk bertemu dengan keluarga. Sama-sama merasakan kerinduan yang mendalam.