New Normal di 15 Kab/Kota Jabar Dahulukan Buka Rumah Ibadah, Industri dan Perkantoran

oleh -
Gubernur Jabar Ridwan Kamil

New Normal di 15 Kab/Kota Jabar Dahulukan Buka Rumah Ibadah, Industri dan Perkantoran

RADARBANDUNG.id, BANDUNG- Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menyebut fase New Normal, atau yang dalam bahasanya disebut sebagai Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) hanya diperuntukan bagi daerah yang berada di zona biru.

Ada 15 daerah yang masuk zona biru, yakni Kab. Bandung Barat (KBB), Kab. Ciamis, Kab. Cianjur, Kab. Cirebon, Kab. Garut, Kab. Kuningan, Kab. Majalengka, Kab. Pangandaran, Kab. Purwakarta, Kab. Sumedang, Kab. Tasikmalaya, Kota Banjar, Kota Cirebon, Kota Sukabumi dan Kota Tasikmalaya.

Baca Juga: Ridwan Kamil: 15 Kab/Kota di Jabar New Normal, 12 PSBB, Ini Daftar Lengkapnya

Di daerah itu, Ridwan Kamil mengatakan, new normal akan diterapkan secara bertahap dengan tahap pertama memprioritaskan pembukaan tempat ibadah. “Tahap pertama yakni rumah ibadah. Jadi rumah ibadah di daerah yang sudah biru per 1 Juni itu dipersilakan, tapi dengan 50% kapasitas. Jadi, kalau ibadahnya tadinya 100 orang, sekarang mohon maaf 50 dulu, nanti 50 berikutnya dironde kedua,” ujar Ridwan Kamil dalam jumpa pers daring, Jumat (29/5).

Kemudian, di AKB berikutnya (tahap kedua) adalah pembukaan sektor ekonomi, namun tidak berlaku di semua sektor. Yang pertama kali akan didahulukan berdasarkan hasil kajian ilmuwan Jabar adalah sektor ekonomi dengan risiko menyebarkan virus covid-19 kecil, tapi dampaknya besar dalam sosial.

“(Sektor) apa itu? Industri. Maka tahap satu pembukaan ekonomi di daerah-daerah yang sudah diizinkan adalah industri dan perkantoran,” ujar Ridwan Kamil.

“Kemudian tahap ketiganya baru ritel, mal dan yang jual beli yang sifatnya orang keluar masuk hilir mudik silih berganti,” tambahnya.

Ridwan Kamil menjelaskan soal teknis pelaksanaan tahapan tersebut. Evaluasi per tahapan seluruhnya dilakukan pertujuh hari kerja.

“Seperti contoh, ekonominya yang dimulai dulu adalah pada sektor industri dan perkantoran (bukan ritel dan mal), nanti dievaluasi 7 hari. (Kalau) tidak ada gejolak (selama tujuh hari). Baru masuk yang namanya ke high risk. Karena ritel, mal dan pariwisata menurut ilmuwan kami itu high risk. Jadi, kita pakai ekonomi yang low risk dulu tujuh hari. Kalau tidak aman, ya ditahan dulu yang high risk, kalau aman masuk ke high risk ke mall ritel dan mudah mudahan terjaga,” terangnya.

“Tapi, sebaliknya, ketika selama tujuh hari pelaksanaan AKB ternyata tidak berjalan maksimal, maka mal belum bisa beroperasi, bahkan daerah yang bersangkutan kembali harus melakukan PSBB,” tuturnya.

Ridwan Kamil meminta masyarakat untuk tidak bereuforia dalam penerapan new normal ini. “Jadi, bahwa pada saat AKB nanti diumumkan di 15 daerah tadi oleh bupati walikota terus bereuforia, itu tidak boleh, karena akan dilakukan bertahap,” jelasnya.

Sementara untuk sekolah, Ridwan Kamil menyatakan, seluruh sekolah di zona biru dan kuning tetap memberlakukan belajar di rumah atau melakukan aktivitas belajar online hingga situasi dinilai benar-benar aman.

(ysf/radarbandung.id)