Rumah Aspirasi Agung Budi Santoso Buka Ruang Bantu Warga Terdampak Covid-19 di Karangmekar Cimahi

oleh -
Anggota DPR RI Partai Demokrat, Agung Budi Santoso (kanan), didampingi Koordinator Rumah Aspirasi ABS, Iwan Setiawan (kiri), berdialog di dapur umum Kelurahan Karangmekar, Kota Cimahi. (GATOT POEDJI UTOMO/RADAR BANDUNG)

Rumah Aspirasi Agung Budi Santoso Buka Ruang Bantu Warga Terdampak Covid-19 di Karangmekar Cimahi

RADARBANDUNG.id, CIMAHI- Tim Rumah Aspirasi Agung Budi Santoso (ABS), melakukan kunjungan ke wilayah Kelurahan Karangmekar Kota Cimahi.

Kunjungan tersebut merupakan respon terhadap kebutuhan masyarakat di tengah pandemi covid-19.

Seperti diketahui, belum lama ini seorang warga di lingkungan RT 1 RW 17, Kelurahan Karangmekar, Kecamatan Cimahi Tengah terpapar corona.

Dengan begitu, otomatis sebanyak 176 warga harus menjalani isolasi selama 14 hari di lingkungan tempat tinggalnya.

Menurut Agung, menjalani isolasi mandiri itu sangat sulit. Apalagi dalam kondisi yang saat ini ruang gerak dan aktivitas dibatasi. Jelas dengan kondisi seperti ini, hanya uluran tangan serta keikhlasan sesama yang diharapkan.

“Dalam menjalankan fungsi sosial masyarakat, tentunya terus berupaya membantu meringankan kebutuhannya. Apapun bentuknya mudah-mudahan bermanfaat,” kata Agung Budi Santoso, yang juga Anggota Komisi II DPR RI.

Terkait bantuan bagi warga yang sedang menjalankan isolasi mandiri, lanjut Agung, pihaknya membuka lebar bagi siapa saja yang membutuhkan bisa langsung koordinasi dengan pengurus Rumah Aspirasi ABS, di Jalan Encep Kartawirya.

Termasuk pihak kelurahan yang menjadi pengawas, sekaligus melayani warga yang terisolasi. “Nanti kebutuhannya disiapkan sesuai kemampuan kami,” tandasnya.

Sementara itu, Lurah Karangmekar Nur Effendi menambahkan, untuk memenuhi kebutuhan makanan bagi warga yang melaksanakan isolasi mandiri, sejauh ini pihaknya memanfaatkan bantuan dari sejumlah donator serta pihak terkait lainnya.

“Kita akan semaksimal mungkin memenuhi kebutuhan mereka hingga diketahui hasil swab test keluar,” kata Effendi.

Dalam menjalankan program Pembatasan Sosial Berskala Mikro (PSBM) Provinsi Jabar, kata dia, sebanyak 176 warga selama 14 hari harus isolasi mandiri, terutama 35 orang yang kontak erat dengan pasien positif.

“Kalau ternyata hasil swab test yang dilakukan sehari sebelumnya sudah keluar dan dinyatakan negatif, PSBM bisa sedikit dilonggarkan. Namun 35 orang kontak erat pasien positif termasuk anak dan istrinya tetap harus menjalani isolasi,” pungkasnya.

(gat)