Sedang Tren Gowes, Hindari juga Bahaya Bersepeda Saat Pandemi

oleh -
FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG

Sedang Tren Gowes, Hindari juga Bahaya Bersepeda Saat Pandemi

RADARBANDUNG.id, BANDUNG- Saat pandemi, demam sepeda turut ‘mewabah’ di Kota Bandung.

Kondisi ini menjadi momentum mereaktivasi sejumlah jalur sepeda, serta berharap bersepeda dapat tumbuh menjadi budaya berkelanjutan bagi warga Bandung.

Hanya saja, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Setiawan mengingatkan, bersepeda di tengah situasi pandemi tetap memiliki potensi risiko penularan Covid-19.

Menurut Setiawan, sekalipun menyehatkan, menggowes sepeda di tengah pandemi tetap harus mengutamakan protokol kesehatan. Jangan sampai aktivitas bersepeda malah menjadi penyebab penyebaran Covid-19.

Bersepeda di masa pandemi, setidaknya memiliki tiga tingkatan risiko penularan Covid-19. Mulai dari risiko rendah, sedang, hingga tinggi.

Risiko rendah terjadi bila aktivitas bersepeda dilakukan di dalam rumah, baik menggunakan sepeda statis, indoor trainer, hingga memanfaatkan aplikasi khusus untuk bersepeda di rumah.

Risiko sedang terjadi apabila bersepeda ke luar rumah sendirian atau bersama anggota keluarga dan kerabat yang diketahui berada dalam kondisi sehat. Rute sepeda melewati jaur yang sepi, minim interaksi dan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

“Risiko tinggi, bila kita mengambil jalur yang ramai dengan pesepeda lainnya, juga tidak memperhatikan protokol kesehatan,” ujar Setiawan.

Ia mengingatkan para pesepeda tetap harus ingat untuk menjaga jarak saat bersepeda, terutama ketika di tempat yang menjadi titik ramai pesepeda. Selain itu penggunaan masker pun tetap penting.

Baca Juga: Berjualan Sepeda di Bandung Bisa Raup Untung Rp8 Juta Sehari

“Penggunaan masker saat bersepeda tetap disarankan. Apalagi jika bersepeda di jalur yang sama dengan orang lain dalam jarak yang memungkinkan percikan (droplet) keringat atau ludah mengenai kita,” katanya.

Akan tetapi, Setiawan turut mengingatkan, untuk berhati-hati jika menggunakan masker saat bersepeda. Lantaran, masker dapat menghambat sistem pernafasan. Karena itu, Setiawan menyarankan agar melepas masker jika sedang berada di jalan yang cukup sepi.

“Bila sedang sendiri, masker dapat dilepas agar bisa menghirup udara dengan baik. Ini disebabkan, di satu sisi, masker menghambat sistem pernapasan,” imbuhnya.

Baca Juga: Warga Kota Bandung Kini Gemar Bersepeda, Yana Mulyana Minta Mal dan Perkantoran Siapkan Ini

Setiawan menyarankan masyarakat tak bergerombol kala bersepeda. Sebaiknya, masyarakat dapat mengatur kerenggangan jarak dengan pesepeda lain.

“Jarak ideal wajib diperhatikan pesepeda di masa pandemi. Berdasarkan hasil studi dikatakan bahwa jarak aman antar pesepeda sekitar 20 meter. Sementara jarak di sebelahnya 2 meter,” kata Setiawan, yang juga menjabat Ketua Komunitas Sepeda i-Go Unpad.

Baca Juga: Demam Bersepeda di Bandung Berawal dari PSBB, Pedagang Ketiban Untung

Senada, pengamat transportasi MTI, Djoko Setijowarno, mengatakan penggunaan sepeda bisa jadi alternatif transportasi era new normal, terutama untuk transportasi jarak pendek.

“Bersepeda menjadi pilihan karena selain menghindari kerumunan dalam ruang tertutup, menghindari antri, dan ramah lingkungan,” katanya.

Baca Juga: Rencana Dibuka Lagi 26 Juni, Tahura Dago Kini jadi Trek Favorit Para Pesepeda

Namun, Djoko tetap mengingatkan pesepeda tidak bergerombol di jalan. Jaga jarak dinilai penting untuk mengupayakan agar tak terjadi penularan di antara pesepeda.

Di samping itu, Djoko mengatakan, pemerintah penting untuk menyediakan jalur sepeda khusus yang terpisah dengan kendaraan bermotor lainnya. Dengan demikian, kerumunan dengan pengendara lain dapat semakin terhindari, sekaligus menjadi jalur yang aman bagi para pesepeda.