Simulasi Resepsi Nikah di Bandung: Tamu Tak Bisa Dekati Pengantin, Anak-anak dan Lansia Dilarang Hadir

oleh -
Kalender Event 2021, Bandung Lautan Ontel hingga Temu Pendekar
Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana meninjau simulasi resepsi pernikahan di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB). (Humas Pemkot Bandung)

Simulasi Resepsi Nikah di Bandung: Tamu Tak Bisa Dekati Pengantin, Anak-anak dan Lansia Dilarang Hadir

RADARBANDUNG.id, BANDUNG- Forum Aspirasi Pengusaha Jasa Pernikahan Kota Bandung menggelar simulasi pernikahan di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) di Gedung Graha Batununggal Indah, Jalan Batununggal Indah Kelurahan Mengger, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung, Rabu (24/6).

Baca Juga: Tatanan Baru Pesta Pernikahan: Berfoto Wajib Berjauhan, Tamu Undangan Dibagi Shift

Penyelenggaraan simulasi dalam rangka mematangkan standar protokol kesehatan yang harus dilakukan untuk menggelar kegiatan resepsi pernikahan saat masa pandemi Covid-19.

Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana menilai penerapan standar protokol kesehatan yang dilakukan saat simulasi resepsi pernikahan tersebut sudah sangat ketat. Mulai dari wedding organizer (WO), dekorasi hingga katering.

Baca Juga: Horee! Pemkot Bandung Izinkan Resepsi Pernikahan, Kartu Undangan Wajib QR Code

“Berdasarkan simulasi tadi, mudah-mudahan dengan dasar ini nanti kita kaji dengan dinas dan instansi terkait untuk melakukan pelonggaran, relaksasi kegiatan resepsi pernikahan,” katanya usai meninjau simulasi.

“Tapi tentunya harus lewat prosedur. Mereka mengajukan dulu. Kemudian pasti ada surat pernyataan dari asosiasi kalau sampai tidak menerapkan standar protokol kesehatan, ya tidak boleh lagi,” tambahnya.

Baca Juga: Hore, Bupati Bandung Izinkan Warga Gelar Resepsi Pernikahan

Menurut Yana, meski sudah cukup baik, ada beberapa catatan yang perlu dilakukan. Di antaranya tanda pada jalur saat di pelaminan, supaya tamu yang datang bisa tahu agar tidak mendekati pengantin.

“Ada beberapa masukan. Tapi relatif sudah baik. Tinggal tanda jalurnya, dan itu semua harus “ngetrap’ panggungnya supaya tetap berjarak tamu dan pengantinnya,” katanya.

Yana mengaku optimistis selama standar protokol kesehatan sangat ketat, bisa menggelar resepsi pernikahan dengan kapasitas 30 persen.

“Makanya, ke depan supaya tahu membatasi 30 persen itu tidak boleh ada standing party. Jadi semua harus duduk. Kalau duduk akan terukur. Karena physycal distancing-nya bisa lebih terkendali,” katanya.