Kalung dari Kementan Diklaim Bisa Lumpuhkan Virus Corona Setelah Dipakai 15 Menit

oleh -
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (Raka Denny/Jawa Pos)

Dalam hal ini, tim peneliti Balitbangtan. Menurut dia, Badan Virologi Kementan pun sudah melakukan penelitian sejak 10 tahun lalu dan tak asing dalam menguji golongan virus corona. Misalnya, influenza, beta coronavirus, dan gamma coronavirus.

Dari penelitian, kata dia, minyak atsiri Eucalyptus citriodora bisa menjadi antivirus terhadap virus avian influenza (flu burung) subtipe H5N1, gamma coronavirus, dan beta coronavirus. Penemuan tersebut disimpulkan setelah melalui uji molecular docking dan uji in vitro di Laboratorium Balitbangtan. Lab itu pun telah mengantongi sertifikat level keselamatan biologi atau biosafety level 3 (BSL 3).

”Setelah kita uji, ternyata Eucalyptus sp bisa membunuh 80–100 persen virus, mulai avian influenza hingga virus corona,” paparnya. Melihat hasil uji yang baik, pihaknya pun melanjutkan ke penggunaan nanoteknologi agar kualitas hasil produknya lebih bagus.

Penelitian menunjukkan eukaliptol itu berpotensi mengikat protein Mpro sehingga menghambat replikasi virus. Manfaat tersebut didapat karena 1,8 sineol dari eukaliptus yang disebut eukaliptol bisa berinteraksi dengan transient receptor potential ion channel yang terletak di saluran pernapasan.

Hal itu didukung dengan berbagai studi lainnya. Disebutkan bahwa hanya dengan diinhalasi 5–15 menit, obat itu akan efektif bekerja sampai ke alveolus. Artinya, dengan konsentrasi 1 persen saja, obat tersebut sudah cukup membunuh virus 80–100 persen.

Terkait dengan banyaknya keraguan terhadap kalung antivirus itu, Fadjry tidak memberikan tanggapan. Dia hanya mengatakan bahwa saat ini banyak negara yang berlomba-lomba menemukan antivirus corona, begitu juga di Indonesia.

”Ini bukan obat oral, ini bukan vaksin, tapi kita sudah lakukan uji efektivitas. Secara laboratorium dan ilmiah kita bisa buktikan. Paling tidak ini bagian dari upaya kita,” jelas Fadjry.

Dia menegaskan bahwa produk itu berbeda dengan kalung virus shut out dari Jepang. ”Produk kalung dari Jepang sudah ditarik seluruh dunia karena zat berbahaya mengandung klorin,” tegasnya.

Baca Juga: Iuran BPJS Kesehatan Naik, Mau Pindah ke Kelas 3? Segera Urus

Klorin merupakan iritan yang berat pada saluran napas dan mata. Beda dengan eukaliptus yang merupakan bahan alami. Sebagai informasi, kalung virus shut out sebelumnya diburu masyarakat karena diklaim bisa mengusir Covid-19.

Tapi, ternyata kalung tersebut terbukti mengandung klorin (chlorine) yang justru berisiko bagi kesehatan manusia. Sebab, klorin yang tergolong disinfektan bukan untuk digunakan ke permukaan makhluk hidup. Jika dalam kadar tinggi, klorin bisa mengakibatkan rabun pada manusia hingga iritasi pada saluran pernapasan serta menimbulkan batuk, nyeri tenggorokan, iritasi kulit, dan mata.

Baca Juga: Pria Ini Nikahi Wanita Berparas Ayu, Cukup dengan Mahar Sandal Jepit dan Segelas Air Putih

Dekan Sekolah Farmasi ITB I Ketut Adnyana mengungkapkan bahwa secara regulasi, pihak yang mengklaim soal khasiat eukaliptus untuk menjadi obat, vaksin, atau pencegah virus Covid-19 harus menyerahkan hasil kajian dan studi ilmiah kepada pihak berwenang, dalam hal ini BPOM. ”Sebuah produk itu biasanya harus memiliki izin dari BPOM. Ada nomor edarnya. Ini yang akan menentukan level klaim tersebut,” jelasnya.

Menurut Adnyana, BPOM atau pihak yang berwenang harus segera meluruskan tentang status eukaliptus sebagai antivirus Covid-19. Selain itu, Adnyana menyarankan masyarakat untuk selektif. Sebab, produk yang diklaim Kementan berupa kalung tersebut berfungsi mirip seperti menghirup aroma minyak kayu putih. ”Menghirup obat seperti ini juga harus ada dosisnya. Ada proses namanya toksisitas inhalasi,” katanya.

(jpc)