Ketika Guru Honorer Harus Rela Sisihkan Gaji yang Pas-pasan buat Beli Kuota Internet

oleh -
insentif-tenaga-honorer-pendidikan-belum-cair-pemkab-bandung-barat-minta-bersabar
Ilustrasi sekolah

Ketika Guru Honorer Harus Rela Sisihkan Gaji yang Pas-pasan buat Beli Kuota Internet

RADARBANDUNG.id, SOREANG- Pandemi Covid-19 membuat kegiatan belajar mengajar di sektor pendidikan dilakukan secara daring atau luring.

Kondisi ini memaksa guru honorer untuk menyisihkan gajinya demi membeli keperluan penunjang kegiatan belajar mengajar secara daring, seperti kuota internet.

Salah satu guru SDN di Cisalak, Jatisari, Cangkuang Kab. Bandung, Amar misalnya. Ia mengaku pembelajaran daring dan luring membuat para guru seperti dirinya, kerepotan.

Amar yang hanya guru honorer dengan upah pas-pasan harus menyisihkan uang untuk membeli kuota internet. Selain biaya kuota internet, ia juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk ongkos kunjungan ke rumah rumah siswa saat pembelajaran luring.

“Nggak ada uang tambahan dari sekolah untuk beli kuota dan ongkos mengajar ke rumah rumah siswa. Jadi, biaya itu kami ambil dari upah kami sebagai guru honorer saja,” kata Amar via ponsel.

Ia sendiri sudah menjadi guru honorer lebih dari 10 tahun, dan hanya mendapatkan honor bulanan Rp850 ribu. Setiap harinya, Amar harus mengajar tujuh mata pelajaran.

“Di sekolah kami itu ada enam orang guru yang statusnya masih honorer, termasuk saya. Upah bulanan yang kami terima bervariasi dari mulai Rp 600 ribu hingga Rp 900 ribu perbulan. Dari uang itulah sebagian kami sisihkan untuk biaya kuota dan ongkos mengunjungi siswa,” ungkap Amar.

Baca Juga: Guru Honorer SMP Ungkap Cerita Sedih ke Aa Gym: Dibayar Rp12-20 Ribu Per Jam

Meski semua itu tak dijadikannya sebagai penghalang untuk dapat terus mengabdi, Amar berharap pemerintah dapat melihat dan mengerti kesulitan sehari-hari yang dihadapi guru honorer. Apalagi, di masa pandemi, guru honorer yang biasanya memiliki usaha sampingan seperti menjadi tukang ojek, berdagang dan lainnya tak dapat melakukannya.

“Mungkin yang paling repot menerapkan pembelajaran daring dan luring itu yah kami yang mengajar di daerah pinggiran gunung ini. Saya harap pemerintah dapat mengerti kesulitan kami, jangan cuma melihat dan menjadikan contoh di daerah perkotaan saja,” pungkas Amar.

(fik/radarbandung)