PHRI Kabupaten Bandung Cari Pinjaman Modal

oleh -
ILUSTRASI : Meskipun sejumlah hotel dan restoran sudah kembali dibuka pada Masa Kebiasaan Baru (AKB), tetapi okupansi hotel dan restoran tersebut masih jauh dari normal. (Fikriya Zulfah/Radar Bandung)

PHRI Kabupaten Bandung Cari Pinjaman Modal 

RADARBANDUNG.id, SOREANG- Sejumlah hotel dan restoran di Kabupaten Bandung sudah kembali dibuka di masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB).

Namun tingkat okupansinya masih jauh dari normal.

Hal itu, membuat pengusaha hotel dan restoran berharap pemerintah dapat mendorong perbankan untuk memberi pinjaman lunak.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Bandung, Use Juhaya mengakui adanya pengingkatan okupansi sejak hotel dan restoran kembali dibuka di masa AKB, tetapi masih jauh dari kondisi normal.

Okupansi hotel sekitar objek wisata hanya 50 persen

Di awal pandemi Covid 19, okupansi hotel berada diangka 0- 5 persen. Kini, okupansi hotel yang berdiri di lingkungan objek wisata hanya mencapai 50 persen.

Sedangkan, okupansi restoran beragam, antara 35 persen – 75 persen. Misalnya, restoran diwilayah lintasan, seperti nagreg, yang okupansinya sudah bagus.

“Okupansi hotel masih rendah karena coorporate belum berkegiatan di hotel. Okupansi restoran di objek wisata rendah karena belum diperbolehkannya wisata grup,” ujar Use via ponsel.

PHRI Kabupaten Bandung berencana ajukan bantuan permodalan

Untuk bantuan modal, dikatakannya, belum ada. Tapi, PHRI berencana mengajukannya dalam rangka pemulihan.

Saat ini, bantuan pemerintah hanya berupa pemotongan pajak hotel dan restoran sebesar 30 persen.

Tapi, pemotongan pajak belum begitu terasa manfaatnya, karena omzet hotel dan restoran sendiri yang memang masih sedikit, bahkan bagi hotel dan restoran yang tutup, praktis pendapatannya nol.

“Kami berharapnya untuk pajak jangan dilakukan penarikan dulu,” harap Use.

Pihaknya pun berharap, pemerintah dapat mendorong perbankan memberikan pinjaman lunak kepada para anggota PHRI, dan bisa dilibatkan di dalam proses recovery.

Biaya perawatan hotel cukup tinggi

Kerugian yang dialami hotel, selain disebabkan kunjungan menurun karena pengunjung lebih senang berada di hotel yang bernuansa alam, disebabkan pula biaya perawatan hotel yang cukup tinggi, mulai listrik hingga perawatan kebun.

“Terus terang saja, pemilik usaha belum mendapatkan untung. Tapi, kita tetap bersyukur bisa mempekerjakan kembali karyawan,” sambung Use.

PHRI Kabupaten Bandung awasi protokol kesehatan

Rata-rata 75 persen pegawai, kata dia, sudah kembali bekerja, sisanya masih dirumahkan.

Di masa AKB, semua hotel dan restoran telah membuat surat pernyataan terkait kewajiban menerapkan protokol kesehatan pencegahan Covid-19. Tentunya, PHRI Kabupaten Bandung bertugas mengawasinya.

Baca Juga: Dampak Corona, Okupansi Hotel di Bandung Turun Drastis

“Guna meningkatkan okupansi baik hotel dan restoran kami selalu menggelar sosialisasi bekerja sama Pemkab Bandung,” pungkas Use.

(fik/radarbandung)