Perempuan dalam Perspektif Berbeda

oleh -
Perempuan dalam Perspektif Berbeda
Karya seni lukis dan dekoratif pada perempuan seni berajuk Corruptre di Thee Huis Gallery, Jalan Bukit Dago, Kota Bandung. FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG

Perempuan dalam Perspektif Berbeda

RADARBANDUNG.id, BANDUNG- Kesenian yang melampaui upaya mereplikasi atau merekonstruksi kenyataan menjadi benang merah dari pameran ‘Corrupture’.

Berlangsung di Thee Huiss Gallery Jalan Bukit Dago Selatan No 53A, pameran yang mengangkat tema perempuan ini diadakan 24 Agustus sampai 4 September 2020.

Pameran ‘Corrupture’ digagas oleh dua seniman perempuan, Arti Sugiarti dan Deborah PG Ram Mozes.

Kurator Ari J Adipurwawidjana mengungkapkan, fragmen, teks, dan asemblase yang tersaji pada pameran ini adalah kesenian yang melampaui upaya mereplikasi atau merekonstruksi kenyataan.

Sesuatu yang hadir adalah bagian dari proses rekonstruksi atau serangkaian tindakan membangun yang berkelanjutan.

Maka, yang dipamerkan di sini tidak mudah dikatakan sebagai karya, karena tidak dengan mudah dapat dikatakan bahwa yang ada di sini adalah sebuah hasil akhir.

“Paling-paling sapuan warna, guratan garis, atau irisan pisah pada kanvas, kertas, atau tembikar ini bisa dikatakan sebagai serangkaian momen, dan serpihan-serpihan yang untuk sementara sedang menemukan tempat hunian. Tidak ada rencana yang ditakdirkan pasti. Bolehlah karya-karya ini disebut ‘kepingan’,” tutur Ari.

Menurut Ari, yang tersaji di pameran ini telah melangkah melampaui definisi karya. Soalnya, tidak lagi terperangkap dalam batas-batas kanvas atau kertas, atau bahkan bingkai dan ruang pameran.

Mengutip filsuf Roland Barthes, kata Ari, karya memang ditujukan untuk dipajang dan dikagumi.

Sedangkan teks merupakan pengakuan atas keterkaitan dan kelindan dengan semesta yang senantiasa menembus sekat-sekat.

Namun, yang dihadirkan di pameran tidak berpotensi dapat menguasai keutuhan dan keseluruhan.

Kepingan-kepingan ini hadir tidak dengan keangkuhan demagogis melainkan kerendahan hati mengakui ketidakutuhannya.

Seperti kepingan yang disajikan Arti Sugiarti, dia tidak berusaha menyajikan warna-warna yang melebur satu sama lain seakan hendak menyembunyikan proses kejadiannya.

Setiap sapuan warnanya jelas kehadirannya dan jelas betapa warna yang satu bersanding dengan warna lain.

“Betapa bentuk yang satu dan bentuk yang lain berbenturan dan berhimpitan menempati ruang yang sama dan sempir-bersama dan sekaligus bersaing,” sambung Ari.

Demikian juga, garis-garis tinta dan grafit yang dihasilkan Deborah Ram Mozes, setiap garis yang ditarik jelas hitam dan kelambunya terpisah dari hitam dan kelabu garis yang lain.

Citra-citra ini memberi kesaksian bahwa keselarasan yang diimpikan manusia itu ilusi utopis.

“Hal-hal yang kita pandang sebagai keseluruhan itu terdiri atas unsur yang mengalir dan ada unsur yang menghentikan dan menghambat aliran itu,” katanya.

“Hal-hal yang kita pandang sebagai kelancaran fungsional merupakan perbenturan yang merusak. Setiap kali ada kontinuitas hadir pula interupsi dan disrupsi,” ujarnya.

Aktivitas seni Arti Sugiarti dan Deborah Ram Mozes adalah tindakan mengumpulkan kepingan dan serpihan.

Kesenian, sebagaimana kehidupan, merupakan usaha manusia memungut potongan-potongan yang tercecer di semesta.

Manusia lazim mengenal kebenaran sebagai seorang dewi yang tumbuh dari kepala bapaknya. Akan tetapi, manusia juga tahu bahasa tubuh nyata lahir dari rahim ibu beserta darah dan rasa sakit.

Menurut Ari, kedua seniman ini secara gamblang dan terus terang memperagakan betapa tubuh dan kehidupan perempuan dibangun dari kepingan dan pecahan.

Baca Juga: Lukisan di Jalan Braga Banyak Diminati Turis Asing

Pada pameran ini, pengunjung tidak akan melihat kemulusan tubuh perempuan yang berbaring anggun pada sisinya menikmati untaian anggur.

Ari menyebutkan, di pameran ini pengunjung dapat melihat kesenian yang bukan karya, karena setelah warna berhenti disapukan pada satu potong kanvas ia pindah ke kanvas lain.

Setelah pensil berhenti mengguratkan garis pada kertas, pisau datang menoreh.

Baca Juga: Yuk… Saksikan Pameran Lukisan Seniman Bandung

Lalu, kepingan-kepingan yang menolak selesai, bertemu satu sama lain dengan berbagai cara, dari arah yang beragam, untuk sementara menjadi peristiwa.

“Kepingan-kepingan yang dihadirkan Arti Sugiarti dan Deborah Ram Mozes menemukan cara berjumpa yang belum banyak dijelajah seniman lain. Semoga di sini dan di situ ditemukan momen mereka. Jika kita semua berkenan bergabung dengan mereka, ini adalah saat kita,” tandasnya.

(fid/radarbandung)