Si Kurus yang tak Mudah Diurus

oleh -
Koleksi Ikan Discus | Si Kurus yang tak Mudah Diurus
Ikan discus jenis Pigeon Checkerboard (kiri) dan Red Melon berwarna terang/Guslan Gumilang/Jawa Pos

Si Kurus yang tak Mudah Diurus

DISCUS memikat hati para penghobi ikan berkat keelokan corak tubuhnya yang mampu menandingi keindahan ikan-ikan cantik di bawah laut.

Ternyata menikmati keindahan si kurus itu tidak mudah. Namun, justru di situlah seninya. Tantangannya.

”Untuk pemula, sebaiknya pelihara discus yang berapa inci?’’ tanya seorang newbie di grup Penghobi Discus Surabaya. Diskusi asyik pun terjadi.

Salah seorang member mengusulkan minimal 2 inci. Member lainnya menyebut lebih aman di atas 3 inci karena ikan dengan umur yang cukup lebih kuat bertahan.

Ada juga yang mengusulkan, sebelum memutuskan untuk membeli ikan, sebaiknya pikirkan airnya. Ikan bernama Latin Symphysodon discus itu hanya bisa hidup di air yang sangat bersih.

Biasanya, penghobi ikan berpostur pipih tersebut menggunakan air isi ulang atau air mineral galonan. Minimal air endapan.

Untuk tahap penyaringan, member lain menyarankan ukuran filter setidaknya 30 persen dari volume akuarium. Di dalam filter itu, harus ada bio ring atau crystal bio, kapas putih, dan arang aktif.

”Jangan lupa P3K discus. Misalnya, garam ikan dan Pomate. Kebanyakan ikan mati karena tidak siap obat,” papar member lain.

Wah, ribet juga ya. Namun, bukannya menyerah, si newbie malah makin bersemangat memulai petualangannya mengurus si kurus.

Kevin Arnisto Vara, salah seorang penghobi discus, mengamini semua keribetan itu. Soal air, dia mewajibkan kadar pH (power of hydrogen) antara 6,5–7,5.

Tingkatan itu sudah lebih tinggi daripada standar air yang boleh diminum manusia. Selain itu, TDS (total dissolved solids) perlu diperhatikan. Untuk satu akuarium, TDS tidak boleh lebih dari 100 ppm atau mg/l.

”Makanya, selama ini pakai air mineral galon. Kalau nggak gitu, rewel,” ungkap Kevin.

Kualitas air memang selalu menjadi problem utama dalam memelihara diskus. Termasuk temperatur air.

Untuk menjaga suhu air tetap berkisar 26–30 derajat Celsius, Kevin juga memasang heater alias penghangat di akuariumnya.

Baca Juga: Orchid Forest Cikole Lembang, Taman Anggrek Terluas di Indonesia

Aerator pun harus selalu hidup. Biasanya, penghobi menyiagakan aerator bertenaga baterai untuk mengantisipasi listrik padam.