Menyingkap Haru dan Perjuangan di Balik Pusat Konservasi Elang

oleh -
Menyingkap Haru dan Perjuangan di Balik Pusat Konservasi Elang
Burung elang di Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK)

UPAYA pelestarian berbagai jenis burung elang di Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK) tidak pernah berjalan mudah. Namun, para petugas yang terlibat disana merasakan kebahagiaan yang sama saat melihat elang berhasil melewati masa rehabilitasi, kembali terbang di alam liar.

Bahi Binyatillah Bu’dinnar, Radar Bandung

Jumat, 25 September 2020 menjadi hari yang ditunggu oleh lima elang jenis Alap-alap sapi (Falco Moluccensis) bernama Simon, Sisil, Sasa, Susan, Seli.

Mereka dinyatakan memenuhi kategori untuk dilepasliarkan setelah berada di PKEK sejak Agustus 2019.

Wilayah Kamojang, Kabupaten Garut dipilih menjadi lokasi pelepasliaran karena kondisi geografisnya dan habitatnya masih dalam kondisi baik.

Saat itu, cuaca pada pukul 09.00 WIB sangat cerah diiringi desiran angin khas daerah dataran tinggi.

Tak butuh waktu lama bagi kelima elang untuk melesat terbang dari kandang. Para petugas yang ikut dalam seremoni spontan bersorak. Ada yang bertepuk tangan, ada pula yang menangis haru.

Ekspresi itu mungkin luapan kebahagiaan, karena mereka menjadi saksi perjuangan para elang yang hidup setahun di pusat konservasi berjuang menumbuhkan kembali sifat alami agar bisa bertahan hidup di alam liar.

Mereka harus belajar memakan binatang hidup setiap pagi, belajar terbang, berburu hingga bertahan hidup.

Momen haru itu tidak berlangsung lama. Para petugas di PKEK langsung bergegas untuk kembali bekerja. Karena, mereka sadar ada sekitar 140-an elang berbagai jenis yang masih membutuhkan penanganan di pusat konservasi.

Dian Tresno Wikanti, dokter hewan di PKEK menjelaskan bahwa ratusan elang yang berada di pusat konservasi memiliki masalah yang beragam.

Tidak semuanya seberuntung Simon, Sisil, Sasa, Susan, Seli.

“Setiap elang punya masalah berbeda, trauma berbeda jadi tidak bisa digeneralisir. Ketika datang kesini tahapannya diperiksa dulu dicek kesehatan, diobservasi, kalau sudah oke, baru masuk tahapan selanjutnya, direhabilitasi untuk menumbuhkan kembali sifat liarnya” kata dia saat ditemui saat jam makan siang.

Ia menyebut, elang yang datang untuk rehabilitasi datang dari sitaan aparat hukum hasil kasus jual beli ilegal, penyerahan warga yang memelihara atau penyerahan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat.

Biasanya, elang yang memiliki latar belakang dipelihara lebih membutuhkan waktu lama untuk kembali beradaptasi karena tidak biasa terbang jauh atau tidak bisa berburu mangsa.

Elang yang pernah dipelihara biasanya sudah mengalami domestikasi, karena sudah dilatih. Sementara elang hasil sitaan jual beli biasanya lebih mudah untuk ditangani karena elang tersebut belum lama ditangkap di alam liar.

“Kami ga bisa memberi data rata-rata, karena memang masalahnya beda-beda. Ada yang setahun baru bisa dilepasliarkan, ada yang sudah enam tahun sejak PKEK beroperasi di tahun 2014 masih belum bisa dilepasliarkan,” ucap perempuan lulusan Universitas Gajah Mada (UGM) itu.

Namun, bukan berarti kondisi elang yang datang dalam kondisi yang baik. Ada sekitar tiga persen yang tidak bisa dilepasliarkan karena fisiknya sudah ringkih. Elang yang memiliki patah tulang, cacat mata, cedera bekas tembakan yang tidak bisa disembuhkan akan dirawat dan “ditugaskan” untuk keperluan edukasi kepada masyarakat.

“Ada juga elang yang sayapnya sudah lama patah dan tulangnya sudah keras melekat membentuk sendi baru atau sudah nyambung lagi tapi tidak benar, itu penanganan harus dioperasi dibongkar lagi, tapi kasian elangnya, jadi kebijakannya tidak dilakukan, karena nantinya tetap bakal ada pengaruh di aerodinamisnya saat terbang, jadi ya sudah tidak memaksa dia untuk masuk ke program rehabilitasi untuk rilis, tapi masuknya ke program edukasi,” terang dia.

“Tapi, saat melihat elang berhasil dilepasliarkan, kami merasa bahagia banget ketika elang terbangnya bagus, huntingnya bagus. Memang ada perasaan sedih karena sudah merawat elang itu lama, tapi perasaan itu harus disingkirkan, karena tujuan kita goalsnya itu (melepas) ke alam liar untuk keseimbangan ekosistem,” ucap Bude, panggilan akrabnya.

Menyingkap Haru dan Perjuangan di Balik Pusat Konservasi Elang

Saat ini, ada sekitar 144 elang yang berada di PKEK. Jenisnya pun beragam, ada Elang Bondol (Haliastur indus), Elang Paria (Milvus migran), Elang Brontok (Nisaetus cirrhatus), Elang Jawa (Nisaetus barltelsi), Elang Ular (Spilornis cheela).

Elang Sayap Coklat (Butastu liventer), Elang Sikep Madu Asia (Pernis ptilorlynchus), Elang Alap Coklat (Accipiter fasciatus), Elang Tikus (Elanus caeruleus), Elang Alap-alap Sapi (Falco mollucensis), Elang Alap-alap Jambul (Accipiter trivirgatus).