1.620 Relawan Telah Disuntik Vaksin Sinovac, Kini Tahap Monitoring

oleh -
BPOM dan Unpad Gelar Simulasi Uji Klinis Kandidat Vaksin Covid-19
Relawan saat mengikuti simulasi uji klinis vaksin COVID-19 di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, Kota Bandung, Kamis (6/8/2020). FOTO: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Sebanyak 1.620 relawan vaksin Covid-19 dipastikan telah mendapat suntikan pertama per tanggal 16 Oktober lalu.

Direktur Utama Bio Farma, Honesti Basyir katakan, target relawan uji klinis fase tiga vaksin Covid-19 sudah sesuai pencanangan rencana awal uji klinis fase akhir.

“Jumlah relawan yang mendaftar seluruhnya menurut tim uji klinis fase ketiga sebenarnya lebih dari target 1.800 relawan,” ungkap Honesti, Minggu (18/10/2020).

“Per 16 Oktober jumlah relawan yang sudah mendapatkan suntikan pertama sebanyak 1.620,” sebutnya.

  • 540 relawan masuk tahap monitoring

“Suntikan kedua ada sekitar 1.074, sedangkan 671 relawan sudah dalam tahap pengambilan darah pascapenyuntikan kedua/masuk periode monitoring,” lanjutnya.

Honesti menyebut, 540 dari 671 relawan yang masuk dalam tahap monitoring sudah menjalani tahap pemeriksaan imunogenisitas.

Yang berfungsi untuk mengetahui apakah kekebalan relawan muncul pasca dua kali mendapat suntikan dari vaksin Covid-19.

Kata Honesti, pemerintah telah menetapkan pengadaan vaksin Covid-19 untuk Indonesia 170 juta jiwa atau sekitar 60% dari total jumlah penduduk.

Dengan kata lain, Indonesia memerlukan vaksin Covid-19 340 juta dosis dalam setahun.

Menurut Honesti, hal itu merupakan program besar, sehingga pengelolaannya harus baik.

Sejak awal uji klinis fase ketiga, produksi hingga distribusi Bio Farma, mulai tingkat provinsi sampai puskesmas.

Termasuk tenaga kesehatan yang memberikan vaksin Covid-19 kepada masyarakat.

“Oleh karenanya, seluruh stakeholder harus mengawal sebaik mungkin program vaksinasi Covid-19 ini,” tuturnya.

“Sehingga program ini berjalan sesuai prosedur hingga masyarakat yakin vaksin Covid-19 sudah sesuai peraturan Badan POM yang akhirnya bisa menghentikan penyebaran virus Covid-19,” katanya.

Sementara itu, Direktur Registrasi Obat Badan POM Riska Andalusia mengapresiasi tim peneliti uji klinis fase ketiga.

Selain itu tim Bio Farma yang sudah menjalankan uji klinis fase ketiga sesuai rencana dan time line yang ketat.

“Badan POM sebagai regulator memiliki fungsi tidak hanya pengawasan saja, tetapi juga pendampingan,” ujarnya.

“Kami berharap kegiatan uji klinis fase 3 sesuai prinsip Cara Uji Klinis yang Baik (CUKB) dan validitas data,” sambungnya.

Riska mengklaim, tidak ada laporan Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (KIPI) atau efek samping yang berat atau serius pada relawan.

Baca Juga: Vaksin Covid-19 Mungkin Tersedia Desember, Ridwan Kamil: Akhir Pandemi Sudah Dekat

Riska mengungkapkan, hasil uji klinis dapat menjadi data pendukung Badan POM saat mengeluarkan Emergency Use Authorization (EUA) untuk vaksin Covid-19 yang akan Bio Farma ajukan saat uji klinis fase ketiga berakhir.