Inspiratif | Cerita Bos Denhaag Klappertaart, Berawal dari PHK

oleh -
Inspiratif | Cerita Bos Denhaag Klappertaart, Berawal dari PHK
Pemilik Denhaag Klappertaart, Zacky Rezano Masui yang menceritakan jatuh bangun mempertahankan bisnisnya, sampai sekarang menjadi salah satu toko oleh-oleh khas Bandung. (NUR FIDHIAH SHABRINA/RADAR BANDUNG)

RADARBANDUNG.id, BANDUNG –  Siapa tak kenal dengan kuliner Klappertaart yang kini jadi oleh-oleh khas Kota Bandung.

Panganan warisan leluhur Belanda yang lahir di Kota Manado itu punya sejuta cerita.

Bernama lokal yang beken dengan nama ‘Denhaag Klappertaart’, tidak cuma berkembang menjadi toko oleh-oleh saja, tapi juga menjual cerita yang inspiratif.

Adalah Zacky Rezano Masui, bos Denhaag Klappertaart yang gigih berjualan Klappertaart sejak tahun 2005.

  • Jack dulunya pegawai bank swasta

Jack-sapaan akrabnya- dulunya adalah pegawai bank swasta yang terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), 15 tahun lalu.

Berangkat dari sana, Jack harus berpikir bagaimana melanjutkan hidup bermodalkan uang pesangon yang ia peroleh dari perusahaannya.

Keinginannya berbisnis sudah ada sejak dulu, tapi ia masih bingung dengan jenis usaha yang akan ia buat.

Tidak mau gegabah, Jack kemudian merantau ke Bandung untuk melihat pangsa pasar. Saat itu, Bandung akan jadi kota pariwisata dan Jack melihatnya sebagai sebuah peluang.

“Waktu itu sedang ada Konferensi Asia Afrika dan pemerintah sedang buat jalan tol Jakarta-Bandung. Awalnya itu saya pakai tol sepi sekali tapi cepat ke Bandung cuma 3 jam,”  kata Jack di Store Denhaag Klappertaart, Jalan Bangreng, Senin (19/10).

“Dari situ saya menangkap peluang kalau Bandung akan banjir wisatawan,” timpalnya.

  • Buka toko pada teras rumah

Berbekal resep ibunya, Jack pun akhirnya membuka toko pada teras rumah di Jalan Kyai Gede Utama.

Meski jadi yang pertama berjualan Klappertaart, tidak mudah buat ia mempromosikan produknya.

Jack bercerita, awalnya cuma empat orang yang membeli Klappertaart, itu pun teman-teman dekatnya saja.

Jack akhirnya mulai menggunakan media promosi konvensional seperti cetak brosur dan pasang spanduk pada depan rumahnya.

“Saya cetak ribuan brosur dan membagikannya bersama tim ke masyarakat sekitar. Dari situ 2 minggu kemudian mulai berdatangan pembeli. Lalu mulai nanya ini kue apa dan mereka coba ternyata cocok dan datang kembali,” kisahnya.

Dua bulan kemudian supaya konsumen semakin mengenal produknya, Jack memutuskan pindah lapak ke Jalan Riau. Tahun 2005-an menjadi masa-masa awal kejayaan factory outlet (FO) Bandung,

Jack sewa tempat depan FO dengan etalase ukuran 2 meter. Ia melakoninya 2 tahun, sampai akhirnya kini sudah memiliki 9 cabang.

“Pas pindah ke FO mulai membaik bisa menggaji karyawan sampe sekarang punya 9 cabang (Bandung),” imbuhnya.

  • Camilan kesukaan

Jack mengungkapkan alasannya menjual klappertaart karena merupakan camilan kesukaannya. Klappertaart begitu dekat dengan Jack.

Apalagi Klappertaart buatan ibunya begitu lezat dan lembut yang menginspirasinya selama usaha.

Kini, Denhaag Klappertaart menyajikan dua jenis Klappertaart, yakni panggang dan basah.

Seperti kue dan cake pada umumnya, Denhaag Klappertaart juga menggunakan bahan dasar gula putih, susu, tepung terigu, dan telur ayam.

Rasanya manis yang milky, begitu lembut ketika memakannya. Apalagi dengan crunchy kelapa yang jadi topping dari kuliner ini.

Menurutnya, kue kelapa muda ala Oma Belanda ini memang lebih enak dalam kondisi dingin.

Siapa tak kenal dengan kuliner Klappertaart yang kini jadi oleh-oleh khas Kota Bandung.

Baca Juga: Siniih Kopi, Santorini-nya Bandung

Teksturnya yang padat ini juga membuat camilan legit ini cukup mengenyangkan.

“Klappertaart basah hanya bertahan 12 jam, kalau panggang tahan 24 jam. Awalnya kita jual 15 varian, tapi sekarang cuma sisa 5 varian saja yang benar-benar konsumen suka,” jelasnya.

Baca Juga: Kuliner | Kepulan Asap HOT Plate yang Menggoda di Kedai ‘Overhoat Yaa!!’ Bandung

15 tahun berlalu, Denhaag Klappertaart kini tetap bertahan di tengah gempuran bisnis oleh-oleh serupa.

Dengan komitmen menjaga kualitas produksi, Jack percaya konsumen akan tetap mencari produk yang berkualitas dan tetap konsisten.

(fid/radarbandung)