Kemenag Akan Atur Naskah Khotbah Jumat Para Khatib se-Indonesia

oleh -
Kemenag Akan Atur Naskah Khotbah Jumat Para Khatib se-Indonesia
Ibadah Salat Jumat dilaksanakan di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai), Kota Bandung, Jumat (5/6). Salat Jumat ini merupakan Salat Jumat perdana di masa Pandemi. Dalam pelaksanaannya, jamaah menjalankan salat dengan tetap menjalankan sejumlah protokol kesehatan, di antaranya pengaturan shaf yang dibuat renggang dengan menggunakan pembatasan tanda silang di lantai. (TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

RADARBANDUNG.id – Kementerian Agama (Kemenag) mengeluarkan kebijakan yang bisa memicu beragam respons. Mereka menyiapkan naskah khotbah Jumat untuk para khatib seluruh Indonesia.

Ditjen Bimas Islam Kemenag yang akan menjalankan program penyusunan naskah khotbah Jumat ini.

Dirjen Bimas Islam Kemenag Kamaruddin Amin menyampaikan, Kemenag hanya menyiapkan.

Naskah khotbah yang mereka susun sebatas alternatif bagi para penceramah atau khatib.

“Jika tidak dipakai gak apa-apa. Bukan keharusan,” ujar mantan Dirjen Pendidikan Islam (Pendis) Kemenag itu kemarin (21/10).

Ia menjelaskan, kegiatan menyusun naskah khotbah Jumat berdasar kebutuhan lapangan.

Kamaruddin mengungkapkan, banyak masjid pada daerah dan kampung-kampung yang tidak punya materi khotbah baru. Materi khotbah yang ada disusun sepuluh tahun lalu.

Selain itu, Kamaruddin memastikan, Kemenag tidak akan membuat indeks kepatuhan atau sejenisnya terkait penggunaan naskah khotbah tersebut.

Ia juga menyampaikan bahwa program penyiapan naskah khotbah Jumat itu masih tahap rencana. Program tersebut akan bahas bersama dengan tokoh agama, ormas, dan akademisi.

“Kami punya ide pengayaan narasi khotbah Jumat,” jelasnya.

Ia menuturkan, penyusunan naskah khotbah akan berawal dengan pembahasan signifikansi dan tema. Kemudian, para penyusun merumuskan bersama kebutuhan pesan keagamaan masyarakat kontemporer. Setelah itu, tertuang dalam rumusan tema.

Temanya nanti seputar pengarusutamaan moderasi beragama. Termasuk tema-tema keagamaan lainnya. “Baik seputar ubudiah maupun muamalah,” terang guru besar UIN Alauddin Makassar itu.

Selain itu, ada tema sosial, ekonomi, pendidikan dan kebudayaan Islam.

Ia berharap susunan dan kesepakatan naskah khotbah nanti bisa menjadi rujukan alternatif bagi para pendakwah.

Program itu juga bagian dari fasilitas peningkatan literasi masyarakat terkait isu-isu aktual dalam perspektif keagamaan.

Lebih lanjut, Kamaruddin mengatakan, masjid atau rumah ibadah merupakan pusat syiar moderasi beragama. Tujuannya, mewujudkan Islam yang damai dan mendukung stabilitas beragama serta bernegara.

Namun, menurutnya, ada juga khotbah Jumat yang berisi materi provokatif. Itu menjadi perhatian Ditjen Bimas Islam Kemenag. Karena itu, mereka menyiapkan naskah khotbah Jumat yang relevan.

Nanti naskah khotbah tersebut dapat diunduh dan digandakan melalui laman http://simbi.kemenag.go.id. Naskah itu bisa digunakan masyarakat secara gratis.

Sementara itu, Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Mohammad Bukhori Muslim belum mendengar rencana pembuatan naskah khotbah oleh Kemenag.

Ia juga memastikan bahwa pihaknya belum diajak bicara. ”Saya rasa penting mengajak ormas ya. Sebab, Indonesia ini kan bermacam-macam. Jadi, intinya diajak (berembuk, Red),” jelasnya kepada Jawa Pos.

Bukhori menggarisbawahi, persoalan dan dinamika masyarakat Indonesia amat beragam. Tidak bisa memukul rata dengan tema-tema tertentu dalam khotbah. Harus sesuai dengan kearifan daerah masing-masing.

LDNU, kata Bukhori, memiliki banyak koleksi teks khotbah dari seluruh kiai dan ulama Indonesia. Baik panjang maupun pendek dengan berbagai tema.

LDNU juga memfasilitasi percetakan buku-buku khotbah untuk dibacakan pada masjid-masjid desa dan pelosok. ”Ya, kami cetakkan. Temanya banyak dan beragam. Ada soal kesejahteraan, akhlak, dan sebagainya,” ungkap Bukhori.

Pada bagian lain, anggota Komisi VIII DPR Maman Imanulhaq menuturkan produksi naskah khotbah oleh Kemenag bisa menjadi gerakan edukasi dan literasi tentang nilai-nilai Islam yang lebih moderat dan penuh kasih sayang.

Program itu juga bisa menjadi langkah menanggulangi paham radikalisme dan terorisme.

”Tidak ada ajaran Islam yang mengajari kita membenci sesama, apalagi melakukan tindakan radikalisme dan terorisme,” tuturnya.

Namun, Maman mengingatkan bahwa teks-teks tersebut harus lebih transformatif dan komunitas masyarakat masing-masing yang membuatnya.

”Khotbah itu benar-benar kontekstual, menyentuh persoalan-persoalan masyarakat tempat khotbah itu berlangsung,” ujarnya.

Khotbah juga tidak boleh terlalu bersifat indoktrinasi. Misalnya, daerah yang sudah damai, khotbah tentang radikalisme tidak terlalu efektif. Yang efektif adalah khotbah tentang etos kerja dan bercocok tanam menurut nilai-nilai Islam.

Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah belum berkomentar banyak tentang program pembuatan naskah khotbah Jumat oleh Kemenag.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menyatakan, sampai saat ini, belum ada surat resmi dari Kemenag tentang undangan menulis atau membahas naskah khotbah Jumat. “Wait and see saja,” katanya.

Meski begitu, ia menyebut penyusunan naskah khotbah Jumat oleh Kemenag sebagai program yang baik. Namun, mungkin tidak akan banyak manfaatnya.

Sebab, para khatib biasanya membuat naskah khotbah sendiri atau mengambil dari buku-buku khotbah Jumat yang sudah banyak beredar pada masyarakat.

(jpc)