Kondisi Sungai Citarum sudah Lebih Baik

oleh -
Kondisi Sungai Citarum sudah Lebih Baik
Foto udara Sungai Citarum/Istimewa

RADARBANDUNG.id, BANDUNG –  Kondisi Sungai Citarum saat ini jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya. Tampak bersih dari sampah ataupun limbah.

Pada bibir sungai terlihat hijau, tak ada bangunan liar. Indeks Kualitas Air atau Water Quality Index (WQI) masuk ke dalam kategori tercemar ringan.

Sungai terpanjang di Provinsi Jawa Barat itu menjadi destinasi wisata baru bagi warga.

Dalam dua tahun terakhir kelestarian sepanjang Sungai Citarum semakin terjaga. Warga, TNI, Polri, komunitas dan aktivis lingkungan serta instansi pemerintah banyak terlibat dalam penanganan pengendalian pencemaran pada sungai sepanjang 270 kilometer itu.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Barat, Dr. Ir. Prima Mayaningtias, M.Si mengungkapkan, dalam penanganan pengendalian pencemaran Sungai Citarum tercantum dalam 12 program.

“Soal progres pengendalian pencemaran dan kerusakan DAS Citarum kita tahu setelah ada Perpres No.15/2018. Kemudian sampai sekarang kita banyak melakukan aksi terkait dengan peraturan perundangan tersebut,” jelas Prima.

Dalam beberapa tahun terakhir, DLH Provinsi Jawa Barat intens berkomunikasi dengan jajaran TNI terkait penanganan Sungai Citarum.

Adanya 23 sektor Sungai Citarum. Tentunya dengan tambahan dukungan serta bantuan stakeholder terkait hingga menunjukkan hasil yang signifikan.

Kualitas air Sungai Citarum perlahan membaik. Hal itu terlihat dari pemantauan lapangan dari hulu hingga ke hilir.

Sejak 2019, indeks kuaalitas air nilainya 33,81 dan masuk dalam kategori tercemar berat.

Jauh berbeda dengan 2020, dengan nilai indeks kualitas air naik menjadi 50,67 dan masuk kedalam kondisi tercemar ringan.

“Cara pemantauan dengan pengambilan sampel air. Alhamdulilah, kenaikan nilai indeksnya cukup signifikan,” terang Prima.

Selain data secara manual, pemantauan kualitas air juga dengan alat telemetri yang terpasang.

Sejauh ini ada tujuh alat telemetri yang terpasang pada tujuh lokasi, meliputi Tegalluar, Desa Cihampelas, Dayeuh Kolot, Wangisagara, Outlet Waduk Jatiluhur, Alun-alun Klewang dan Intake PDAM.

“Selain pemasangan tujuh alat telemetri tadi kami juga memasang alat serupa. Ada lima dan dua lagi masih proses izin lokasi,” ungkapnya.

Prima menerangkan, hasil dari alat telemetri secara akumulatif melakukan pemantauan dengan pengambilan sampel air. Jika telemetri terpasang pada perairan, kemudian melakukan monitoring sistem.

“Dari hasil monitoring online sistem, saya dapat datanya beberapa parameter juga masih jauh di bawah. Jadi ada total suspended solid atau padatan tersuspensi total (TSS) menunjukkan kandungan partikulat atau kandungan dalam air masih dibawah,” imbuhnya.

“Jadi jika air semakin keruh, TSS-nya semakin tinggi, berarti terjadi sedimentasi yang cukup tinggi, bisa erosi, sedimentasi, longsoran. Berdasarkan TSS itu hingga saat ini terpantau stabil dan memang bagus,” sambungnya.

Selain itu, lanjut Prima, ada parameter nitrat yang menunjukkan pencemaran limbah domestik masih di bawah syarat baku mutu. Bahkan, untuk disof oksigen sepanjang Sungai Citarum cukup bagus dan temperatur PH air masih sesuai.

“Jadi laporan telemetri yang kita dapatkan semuanya menunjukkan masih jauh di bawah baku mutu dari beberapa parameter yang terpantau. Intinya kualitas air Sungai Citarum semakin membaik,” ungkapnya.

Pencapaian program PKK DAS Citarum dari 12 program ada beberapa yang menunjukkan perubahan lebih baik secara signifikan.

Misalnya, pada 2019 penanganan limbah industri yang ditarget dan harus diawasi sebanyak 250 industri, realisasinya melebihi target jadi 314 industri.

Kemudian 2020 dari target industri yang harus diawasi 497, kini sudah 490 (hingga Oktober 2020).

Kemudian target yang cukup signifikan juga berkaitan dengan penegakan hukum. Pada, 2019, target penegakan hukum 58 kasus, tapi melebihi hingga 166 kasus.

Sedangkan pada tahun 2020 target penegakan hukum 35 kasus, saat ini 24 kasus sudah ditangani (Oktober 2020).

“Untuk penegakan hukum ini beragam sanksinya ada administrasi, teguran hingga pidana,” ujar Prima.

Kondisi Sungai Citarum saat ini jauh berbeda dibanding tahun sebelumnya. Tampak bersih dari sampah ataupun limbah.

Baca Juga: Program Citarum Harum, Tingkat Pencemaran Sungai Turun Drastis

Selain itu, capaian program yang cukup signifikan juga terjadi dalam pemantauan kualitas air dengan indikatornya pemasangan telemetri. Dari target 5,8 persen pada 2019, kini sudah mencapai 17,6 persen.

“Sekali lagi berkat kerjasama instansi pemerintah, TNI, Polri, komunitas, aktivis lingkungan dan warga, 12 program yang dicanangkan 50 persennya melebihi target,” imbuhnya.