Meneropong Mataharikecil, Komunitas Peduli Anak Putus Sekolah di Bandung

oleh -
Meneropong Mataharikecil, Komunitas Peduli Anak Putus Sekolah di Bandung
Murid didik Mataharikecil sedang melakukan kegiatan belajar mengajar di SMP Terbuka Firdaus, Jalan Paralayang no 2, Kota Bandung. (dok: Mataharikecil)

RADARBANDUNG.id – PENDIDIKAN merupakan hak bagi setiap warga negara. Kiranya, bunyi Pasal 31 dalam UUD 1945 itu sangat diamini oleh para penggerak komunitas Mataharikecil di Bandung.

Bermula dari rasa gelisah, mereka memutuskan untuk mengajar anak-anak putus sekolah.

Pendiri Mataharikecil, Amar Shiddiq Junaidi atau dikenal Juna bercerita, berdirinya Mataharikecil bermula saat ia yang tergabung dalam Karang Taruna mendapat ajakan warga untuk melihat kondisi anak-anak sekitar komplek.

Sebab, saat jam sekolah, anak-anak itu justru terlihat di jalanan atau membantu orang tua mereka untuk mencari nafkah. Setelah dicek, anak-anak itu ternyata putus sekolah.

Singkat cerita, mereka bekerja sama dengan SMP Terbuka Firdaus, lalu memulai proses mengajar kali pertama pada Agustus 2015 dengan fasilitas seadanya.

Mereka mendapat bantuan warga sekitar kompleks untuk mengajar 14 anak pada sebuah masjid.

“Di masjid pakai meja lipat yang gambar Sinchan dan Hello Kitty untuk kita ngajar 14 orang anak,” kata Juna.

Murid kemudian bertambah menjadi 20 orang. Kegiatan mengajar lalu ia serahkan sepenuhnya kepada para pemuda yang tergabung dalam Karang Taruna.

Masalah kemudian muncul, saat sebagian besar pemuda Karang Taruna mulai sibuk dengan kegiatan masing-masing hingga tersisa empat orang, yakni Amar, Yasser, Levi, dan Raffi.

Menurut Juna, mereka mesti memutar otak hingga memutuskan membuat program voluntary teaching. Program itu ia sebar melalui media sosial.

Siapa sangka, ternyata jumlah pendaftar membeludak hingga lebih dari 250 orang. Mereka mendaftar karena alasan yang nyaris sama, tak punya wadah untuk berbuat baik.

“Ketika bertanya, kenapa mau ikut? Ternyata, mayoritas dari mereka menjawab karena saya pengin berbuat baik, cuma gak tau wadahnya dan ketika melihat posternya, nah ini mudah-mudahan wadah yang tepat karena bisa ngajarin secara langsung,” ucapnya.

Kegiatan mengajar lalu beralih dari masjid ke GSG yang letaknya dekat taman sekitar komplek.

Volunteer mulai ikut dalam mengajar murid. Kemudian, April 2016, Mataharikecil mulai menjadi identitas. Pada tahun pertama, murid hanya berada pada jenjang menengah pertama kelas 1 dan 2.

“Setelah kita ingat-ingat karena sesuai namanya matahari yang punya atau ngasih manfaat ke bumi dan ke manusia dengan cahayanya dengan hangatnya tapi kecil,” paparnya.

Dalam rekrutmen murid, Mataharikecil mengandalkan SMP Terbuka Firdaus yang juga mendidik murid tidak mampu dan telah berdiri sejak tahun 2006.

Sementara itu, rekrutmen volunteer mulanya tiap tiga bulan sekali. Namun, seiring waktu menyesuaikan kalender akademik SMP dan perguruan tinggi.

Juna katakan, tak ada kriteria khusus untuk menjadi volunteer. Bahkan, mereka yang sudah bekerja dapat ikutserta mengajar dan membagi pengalaman kepada murid.

Terpenting, para pengajar berkomitmen datang ke kelas sesuai jadwal. Hingga kini, tak diketahui rinci jumlah volunteer yang telah bergabung.

“Umurnya gak terbatas hanya kuliah, yang sudah kerja pun bisa, asalkan mereka komitmen dan waktu luangnya cukup untuk Mataharikecil,” katanya.

Bahan ajar kepada murid tak jauh beda dengan sekolah umum. Berulangkali mengadakan ekstrakulikuler seperti menari dan futsal, juga mendapat sambutan antusias murid.

Meski demikian, kegiatan seringkali tak dapat bertahan lama karena keterbatasan dari sekolah dan muridnya.

Selain kesulitan mengadakan kegiatan ekstrakurikuler, kesulitan lainnya status volunteer yang tersemat pada para pengajar.

Dengan status itu, tak dapat menuntut secara berlebih untuk mengajar rutin. Maka, mesti terbangun sistem yang nyaman dan membuat para volunteer nyaman mengajar untuk Mataharikecil.

“Dengan titel volunteer itu kita juga gak bisa nuntut lebih untuk bisa selalu menepati komitmennya,” ungkapnya.

Hingga kini, kata Juna, hal paling berkesan ialah saat seorang murid bernama Raihan mengikuti lomba pidato mengenai Jepang dan menjadi juara satu.

Raihan kemudian diundang ke Jepang untuk mewakili budaya Indonesia.

Di sana, ia disambut langsung Wali Kota Hamamatsu dan berujung kunjungan balik Wali Kota Hamamatsu ke Mataharikecil.

“Raihan diundang seminggu untuk ke Jepang mewakili budaya Indonesia. Jadi ia ke Jepang dan disambut wali kotanya langsung,” ungkapnya.

Ke depan, Juna berharap Mataharikecil dapat menjadi acuan menangani persoalan pendidikan Indonesia, terutama dalam mengurangi angka putus sekolah.

Untuk murid, ia berharap mereka dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Bagaimanapun, para pengajar dalam proses mendidik tak hanya menanamkan akademik tapi juga moral.

Baca Juga: Inspiratif | Cerita Bos Denhaag Klappertaart, Berawal dari PHK

Sementara kepada para volunteer dan pemuda lainnya, Juna berharap mereka dapat berbuat baik tanpa harus menunggu jadi besar.

Berbuat kebaikan sekecil apapun, dapat menjadi makna mendalam bagi orang lain. Pesan itu terungkap dalam moto Mataharikecil, ‘spreading goodness’.