Pemkab Bandung Persiapkan Izin Sekolah Tatap Muka

oleh -
Bupati Bandung, Dadang M Naser meninjau SMP Negeri 1 Soreang.

RADARBANDUNG.id, SOREANG – Pemerintah berencana akan memulai kegiatan sekolah tatap muka tahun depan.

Hal itu Mendikbud, Nadiem Makarim sampaikan, belum lama ini.

Menanggapi ini, Bupati Bandung Dadang M Naser mengatakan, sejumlah sekolah sudah ada yang memulai kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka.

“Tidak perlu terkomando satu serentak, ada yang sudah berjalan. Ada izin lokal, untuk izin kabupaten tengah persiapkan, nanti sampai Januari sebagaimana sudah menteri pendidikan instruksikan,” ujar Dadang saat meninjau SMP Negeri 1 Soreang, Selasa (24/11/2020).

KBM akan berjalan dengan protokol kesehatan pencegahan Covid 19 guna mencegah klaster Covid-19 pada sekolah. Selain itu, lokasi sekolah juga harus jadi perhatian.

“Daerah manapun boleh asal bukan kelas merah. Pabrik juga silakan buka, tapi pabrik itu mana yang punya masalah, tangani,” sambung Dadang.

Semua tingkatan sekolah, baik SD, SMP hingga SMA ia perkenankan melaksanakan tatap muka. Namun, ia juga menekankan pentingnya uji coba sebelum membuka kembali sekolah.

Ia katakan, harus menyiapkan protokol kesehatannya, seperti hand sanitizer, alat cuci tangan, dan thermogun untuk pengecekan suhu.

“Ada satgas di sekolah, kalau ada korban gimana menanganinya. Kalau suhu panas kemana, itu harus ada protapnya,” tutur Dadang.

Dadang mengaku sudah melakukan rapat koordinasi dengan seluruh kepala sekolah, baik perwakilan SD, Mi, SMP, Mts, SMA, SMK, MA.

Ada juga hasil kajian dari tim survei terkait pelaksanaan sekolah daring dan luring. “Ternyata dari hasil kajian itu yang mengikuti daring dan luring hanya 50 persen, yang lainnya belum efektif,” katanya.

“Kita beda dengan Kota Bandung. Makanya, saya kemarin membuat kebijakan silakan sekolah lakukan tatap muka, kala pandemi Covid 19 kita harus berjalan, akademis atau pola belajar mengajar tatap muka persilakan dengan catatan siapkan protokol kesehatan,” tambahnya.

Salah satu cara untuk mencegah klaster Covid-19, maka Dadang menyarankan pemberlakuan aturan shift sekolah.

Kemudian juga kapasitas sekolah hanya 30 persen. Sekolah juga bisa memanfaatkan ruang terbuka untuk tempat siswa berjemur ataupun bermain game.

“Ada ruang terbuka, pagi-pagi siswa dipoyankeun (jemur), ada gamenya. Silakan inovasi dan kreatifitas oleh para guru masing masing mata pelajaran,” ujarnya.

“Mata pelajaran mana dulu yang utamakan. Kalau kurangnya matematik, ya utamanya matematik, kemudian olahraga, tidak harus secara serentak. Silakan atur sedemikian rupa,  ada uji coba, tapi gak berseragam, kalau mau seragam ya silakan. Itu pada saat tatap muka,” tutupnya.

Sementara itu, Staff Kesiswaan SMP Negeri 1 Soreang, Ayom Ahmad mengatakan secara instruksi, KBM diperbolehkan, tapi tidak wajib. Dan juga, kapasitas kelas hanya boleh 50 persen.

Baca Juga: Satgas Covid-19 Minta Pemda Bersiap untuk Buka Sekolah Januari 2021

“Satu minggu sekali gilir, setengah sekolah, sisanya daring. Hampir delapan bulan, selama pandemi ini daring,” terangnya.

“Jumlah siswa ada 1.500 orang. Pengaturannya, guru itu satu kali mengajar ada dua cara, satu buat di rumah secara daring, satu buat dalam kelas langsung tatap muka,” tuturnya.

Baca Juga: Disdik Kota Cimahi Cemaskan Muncul Kluster Sekolah

Pihaknya telah menyiapkan tempat cuci tangan pada beberapa titik sekolah. Kemudian ruang kelas, berlaku pula aturan satu meja untuk satu orang.

Selain itu, tidak ada kantin karena siswa membawa makanan sendiri. Semua itu untuk mencegah terjadinya kerumunan.

“Waktunya berkurang, dari jam 7 selesai jam 11. Istirahat di kelas. Kalau anak-anak perlu berjemur, ya berjemur,” pungkasnya.

(fik)