Mata Andi ‘Jurig’ Asia Afrika Bandung Berkaca-kaca

oleh -
Mata Andi Berkaca-kaca di Sungai Cikapundung
Dok. Radar Bandung

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Mata Andi berkaca-kaca di sekitaran kawasan Sungai Cikapundung, mengingat minimnya penghasilan ia peroleh sebagai ‘Mak Lampir’ di kawasan Alun-alun Kota Bandung.

Penghasilannya yang minim itu terjadi selama pandemi Covid-19, khususnya saat masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sempat diterapkan, April lalu. 

Andi adalah satu diantara pekerja ‘jurig’ kawasan Jalan Asia Afrika. Pandemi Covid-19 yang masih terus terjadi serta PSBB yang pernah diberlakukan Pemkot Bandung, secara tidak langsung menggerus penghasilan mereka.

Mereka biasanya menghibur wisatawan yang sedang menyusuri kawasan bersejarah pada sepanjang jalan Asia Afrika. 

Selama vakum menjadi ‘jurig’ Asia Afrika, Andi beralih profesi sementara, mencari peruntungan lain.

Ia sempat melakukan pekerjaan lain untuk menafkahi anggota keluarganya. Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) juga tidak mengembalikan penghasilan awal Andi.

Selama AKB diperketat, penghasilannya menurun drastis hingga 70 persen. Sebab, jumlah dari mereka yang boleh ‘nongkrong’ dibatasi cuma 12 orang saja.

“Benar-benar total dan steril, tidak boleh ada kegiatan apapun selama PSBB kemarin,” kata Andi.

Pundi-pundi uang biasanya bisa ia raup cukup besar saat akhir pekan datang. Berbekal kostum ‘Mak Lampir’ yang seram, Andi berusaha menarik pengunjung yang ingin berswafoto dengannya.

Setelah foto, ia akan mendapatkan upah buah foto bersama dengan pengunjung. 

“Paling terasa itu saat akhir pekan gitu. Biasanya kan akhir pekan jam-jam siang sedang ramai-ramainya. Kalau sekarang ya bisa dilihat sepi begini pengunjung juga,” ungkapnya. 

Hal yang sama juga dirasakan oleh sesama rekannya. Agung yang sehari-hari berkostum pocong itu mengaku pendapatannya turun drastis selama pandemi Covid-19.

Agung juga harus menjajal pekerjaan lain untuk mendapatkan penghasilan, selagi PSBB kemarin diterapkan.

“Untuk kebutuhan sehari-hari ya kita harus pikir 2x, harus banting setir lagi. Ya, seperti bantu-bantu di pasar,” terang Agung. 

Setiap kali ada yang meminta foto, Andi dan Agung tidak pernah mematok harga khusus. Mereka menerima dengan ikhlas berapapun uang yang diberikan pengunjung.

Tanpa ada unsur memaksa dan meminta, keduanya hanya ingin mencari nafkah dengan cara yang halal.

Baca Juga: ‘Jurig’ Asia Afrika Gentayangan Pakai Masker

Andi dan Agung merupakan sedikit dari banyaknya pekerja yang terdampak pandemi.

Penghasilan yang tidak menentu setiap harinya, ditambah pembatasan jumlah pekerja selama AKB yang diperketat, menjadikan mereka harus putar otak untuk bisa bertahan hidup. 

Mereka berharap pandemi ini segara berakhir dan aktivitas bisa kembali normal. “Untuk kita, mudah-mudahan pandemi ini cepat tuntas,” tutur Andi yang juga diamini Agung.

(job1)