Perubahan Iklim Sebabkan Potensi Bencana di Jabar Meningkat

oleh -
Bencana banjir Jabar
ILUSTRASI

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengakui, Jabar memiliki permasalahan potensi bencana, khususnya lagi yang kerap terjadi di daerah bagian selatan.

Menurutnya, perubahan iklim yang menjadi isu global berdampak pada kondisi lingkungan.

Emil, sapaan Ridwan Kamil, mengatakan perubahan iklim ini dapat meningkatkan potensi terjadinya bencana di Jabar. Mulai cuaca ektrim hingga peningkatan potensi tsunami.

“Kami punya permasalahan bencana alam Jabar bagian selatan, potensi tsunami makin banyak, cuaca ekstrim juga sering melanda,” dalam keterangannya.

Pemprov Jabar, kata Emil, menyiapkan cetak biru sebagai provinsi berbudaya tangguh bencana (resilience culture province).

Penanaman Budaya Tangguh Bencana Jabar ini kepada seluruh warga melalui pendidikan sekolah sejak dini hingga pelatihan.

“Jadi ini adalah sebuah budaya seperti di Jepang. Bagaimana harus siap menghadapi kebencanaan lingkungan melalui pendekatan multidimensi, termasuk pendidikan lingkungan sekolah-sekolah,” imbuhnya.

Sebagai Komandan Satgas Citarum Harum, lebih lanjut Emil katakan, Sungai Citarum mengalami perbaikan, dari tercemar sangat berat menjadi tercemar ringan.

“Pemerintah pusat menargetkan tujuh tahun sungai itu harus bersih dan tahun ketiga semenjak pencanangan Citarum Harum dan turunnya Perpres pada tahun 2018,” ucapnya.

Menurut Emil, dalam menangani Sungai Citarum, pihaknya menerapkan konsep Pentahelix, yaitu kolaborasi ABCGM (akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah, media).

“Keberhasilan penanganan Citarum ini sekarang kami terapkan juga ke sungai-sungai tercemar lainnya. Salah satunya Sungai Cilamaya yang memiliki permasalahan sama dengan Citarum, banyak permukiman dan industri sepanjang DAS sehingga kotor dan tercemar,” bebernya.

Sementara terkait pembangunan infrastruktur lingkungan, Pemprov Jabar sudah menyiapkan program waste to energy. Antara lain pembangunan TPPAS Lulut Nambo di Kab. Bogor dan TPPAS Regional Legok Nangka Kab. Bandung.

Untuk TPPAS Lulut Nambo, mengolaj sampah kota menjadi bahan bakar batu bara yang hasilnya bisa pabrik semen manfaatkan.

Baca Juga: Ridwan Kamil Tetapkan Jabar Siaga 1 Bencana

Hal serupa juga akan pada TPPAS Regional Legok Nangka yang dalam pelelangan investasinya dibantu Japan International Cooperation Agency (JICA).

“Kami sudah bertekad di seluruh wilayah Jabar memiliki fasilitas serupa dan kami juga sudah menyiapkan lima lokasi untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar atau plastic to fuel intuk industri berupa solar,” kata Emil.

Emil mengatakan, dengan jumlah penduduk nyaris 50 juta, Jawa Barat dituntut terus berinovasi dalam pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA). Mulai dari air, tanah, sampai bahan bakar.

“Semua permasalahan lingkungan ini dimulai dari adanya tekanan atau over populations yang menyebabkan semua berebut sumber daya lingkungan,” pungkasnya.

(muh)