PVMBG Pantau 6 Gunung Api Aktif di Jawa Barat

oleh -
erupsi tangkuban perahu
MEMBERSIHKAN: Petugas Damkar bersama petugas yang terkait membersihkan sisa debu erupasi di Gunung Tangkuban Perahu, Kabupaten Bandung Barat, Minggu (28/7/2019). Foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani menegaskan, aktivitas Gunung Semeru di Kabupaten Lumajang, Jawa Timur tak berpengaruh terhadap gunung api di Jawa Barat.

Sebagaimana diketahui, Gunung Semeru mengalami erupsi, Sabtu (16/1).

Kasbani menyampaikan, Gunung Semeru berada pada level dua. Dalam pantauan PVMBG, terjadi awan panas guguran gunung tersebut.

“Semeru aktivitasnya juga tinggi. Memang Semeru sering terjadi letusan-letusan kecil dan dua hari lalu juga ada awan panas guguran itu ya. Tapi semua itu karena memang gunungnya sedang aktif dan sedang tinggi aktivitasnya,” katanya via Ponsel, Senin (18/1).

“Kita itu gunung apinya banyak ya. Ada 69 gunung yang kita pantau intensif. 20 antaranya itu levelnya memang di atas normal. Kita punya 4 level, ada 20 gunung yang level 2 dan 3,” katanya.

Kendati demikian, Kasbani menegaskan, aktivitas Semeru tak berpengaruh terhadap gunung api di Jawa Barat.

Kasbani menyebut, di Jawa Barat sejauh ini pihaknya memantau enam gunung api aktif. Semuanya masih dalam kondisi level 1, dalam aktivitas normal.

“Jawa Barat semua masih level 1, level normal. Beberapa bulan yang lalu ada kenaikan di Gunung Tangkuban Perahu sampai level 2 tapi setelah itu turun lagi,” jelasnya.

Adapun, keenam gunung api Jawa Barat yang termasuk dalam pantauan PVMBG yakni Gunung Gede, Gunung Salak, Gunung Ciremai, Gunung Galunggung, Gunung Guntur dan Gunung Tangkuban Perahu.

“Semuanya dalam level normal, artinya aktivitas seperti gas-gas, sesekali ada gempa-gempa vulkaniknya. Tapi semua ada pada batas normal. Daerah bahanya hanya sekitar kawah saja,” ungkapnya.

Kasbani menjelaskan, setiap gunung memiliki kantung magmanya masing-masing. Ketika kantung itu telah penuh, maka potensi meletus bisa sangat tinggi. Namun, jika kantong itu masih belum mencapai batas tampung, potensi itu kecil terjadi.

“Tidak ada pengaruhnya (terhadap gunung api Jawa Barat). Antara satu gunung dan yang lainnya tidak saling memengaruhi, ya. Meskipun berdekatan, kalau (gunung api) yang satunya penuh yang satunya tidak berpengaruh, ya. Apalagi ini jauh seperti Semeru,” ungkapnya.

Adapun, terkait pencegahan bencana, Kasbani menyampaikan, yang paling penting masyarakat lakukan dalam menghadapi kondisi darurat saat gunung meletus menjaga jarak aman.

Masyarakat agar menjaga jarak aman sebagaimana rekomendasi dari pihak terkait.

Baca Juga: Gunung Semeru Meletus, Muntahkan Awan Panas Sejauh 4,5 Km

“Yang jelas kita sudah memberikan rekomendasi untuk gunung-gunung yang seperti itu. Daerah bahanya sejauh mana. Masyarakat harus tetap tenang seperti biasa, yang penting menjaga jarak aman dari radius sesuai rekomendasi,” ungkapnya.

“Makanya kenapa dalam kondisi normal pun masyarakat itu harapannya tidak tidur (kemah) di daerah kawah karena ada gas-gas yang berbahaya,” katanya.

Kasbani melanjutkan, dalam upaya mitigasi, pihaknya telah menaruh sejumlah alat pada gunung-gunung api, seperti sensor seismik, sensor informasi dan sebagaimanya. Kondisi tersebut dapat terpantau dari pos terdekatnya. Termasuk kantor pusat vulkanologi Bandung.

“Setiap gunung memiliki tingkat aktivitasnya, kami sudah memberikan rekomendasi jadi masyarakat kami harapkan tetap tenang dan mengikuti arahan dari pemerintah daerah dan rekomendasi yang sudah pusat vulkanologi keluarkan, artinya masyarakat tetap menjadu jarak dengan gunung itu. Tidak usah panik,” pungkasnya.

(muh)