Dikaitkan Bergabung dengan Partai, Ridwan Kamil Punya Daya Tarik untuk Momentum Pilpres 2024

oleh -
Disebut-sebut Incar Kursi Ketua Golkar Jabar, Ridwan Kamil: Keliru!
Ridwan Kamil/ist

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Nama Ridwan Kamil belum lama ini dikaitkan dengan isu bergabung dengan sejumlah partai. Salah satunya, ia disebut masuk sebagai salah satu kandidat untuk menggantikan Agus Harimurti Yudhoyono sebagai Ketua Umum Partai Demokrat.

salah satu pendiri Partai Demokrat, Darmizal mengungkapkan nama-nama yang diwacanakan untuk menggantikan AHY. Selain nama Ridwan Kamil muncul pula Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko, Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas, Gubernur Kalimantan Timur, Isran Noor, dan Ketum Partai Emas Hasnaeni.

 

Selain Partai Demokrat, pria yang akrab disapa Emil ini pun digadang-gadang bakal memimpin Partai Golkar Jabar. Meski begitu, dua isu ini sudah ditanggapi dengan pernyataan bahwa Ridwan Kamil masih ingin fokus menjalankan tugas sebagai Gubernur Jawa Barat.

Pakar politik dan pemerintahan Universitas Padjadjaran (Unpad), Firman Manan mengatakan, fenomena tersebut tak lepas dari sistem yang selama ini diterapkan parpol, baik di tingkat daerah maupun nasional yang menjadikan elektabilitas sebagai salah satu ukuran rekruitmen.

“Apalagi, berdasarkan hasil survei sejumlah lembaga survei kredibel, selama ini Emil selalu masuk jajaran lima besar,” ungkap Firman, Rabu (3/3/2021).

Alasan lainnya, Ridwan Kamil hingga saat ini belum berpartai. Dengan kondisi tersebut menurutnya wajar bila parpol memburu Ridwan Kamil. Apalagi, kata Firman, parpol pun kini tengah memasang kuda-kuda untuk menghadapi ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 mendatang.

“Selain punya elektabilitas, dia pun belum berparpol. Tentunya ini menjadi daya tarik bagi parpol. Apalagi, bagaimanapun, momentum (Pilpres) 2024 adalah momentum regenerasi pemimpin muda berkinerja baik dan saya kira Kang Emil masuk dalam kriteria itu,” ucap dia.

Hanya saja, langkah Ridwan Kamil yang memilih fokus menyelesaikan tugasnya sebagai Gubernur Jabar sangat tepat. Apalagi, penanganan pandemi Covid-19 perlu fokus yang maksimal.

“Saya sepakat, dia masih harus fokus bekerja sebagai Gubernur karena mengelola Jabar dalam situasi pandemi ini berat. Saya khawatir, kalau masuk ranah politik, konsentrasinya pecah,” jelas Firman.

(dbs)