Trio ‘Gimbal’ PT Menggelora Diadili Pengadilan Musik

oleh -
Trio 'Gimbal' PT Menggelora Diadili Pengadilan Musik
Grup musik PT Menggelora yang digawangi Dellu Uyee, Rafi Gimbal, dan Resha Stromp didakwa pada gelaran 'DCDC Pengadilan Musik Episode 44' di Kantination The Panas Dalam, Jalan Ambon, Jum'at (26/3). (NUR FIDHIAH SHABRINA/RADAR BANDUNG)

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Trio ‘Gimbal’ yang tergabung dalam proyek musik PT Menggelora dieksekusi pada gelaran DCDC Pengadilan Musik episode 44.

Beranggotakan Dellu Uyee, Rafi Gimbal, dan Resha Stromp, PT Menggelora ditanya berbagai hal terkait musik dan rencana perilisan album kedua.

Kata PT sendiri merupakan kependekan dari Pemuda Terancam Menggelora. Berangkat dari kesukaannya pada musik reggae, ketiganya sepakat membentuk PT Menggelora sebagai sebuah proyek band.

Pemakaian kata PT didasarkan niat mereka yang ingin mencoba mengangkat filosofi dari sebuah perusahaan buang produktif berproduksi hampir setiap hari.

Bahkan, untuk menciptakan sebuah produk yang berkualitas mereka bisa menerapkan kerja lembur, dan hal itu coba diwujudkan dalam bentuk karya musik. Personel Dellu Uyee menuturkan genre musik yang dimainkan mereka merupakan reggae dengan berbagai macam elemen nuansa Jamaican sound.

Saat ini PT Menggelora sudah merilis satu album berjudul ‘Long Journey’. Berisikan 10 nomor, lagu-lagu di album ini dibuat atas idealis ketiga personel. Lagu tersebut di antaranya, ‘Menggelora Bersama’, ‘Penyesalan’, ‘Biar Salah Tak Mengapa’, ‘Akhir Cerita’, ‘Lagu Lama’, ‘Im Sorry Rabb’, ‘Berulang Ulang’, ‘Hanya Untukku’, ‘Buruh Bukan Robot’, dan ‘Sahabat’.

Personel Dellu Uyee menuturkan, lagu-lagu PT Menggelora kebanyakan menyoroti isu-isu sosial. Seperti lagu ‘Buruh Bukan Robot’ yang mengambil momentum pengesahan Omnibus Law yang mana salah satunya berisi UU Cipta Kerja.

“Pada lagu ‘Buruh Bukan Robot’ kami ambil semangat kawan-kawan yang turun di jalan. Lagunya ditulis bersama rekan, yang mengangkat keresahan dan disuarakan melalui sebuah lagu,” kata Dellu Uyee di Kantination The Panas Dalam, Jalan Ambon, Jumat (26/3).

Pada perjalanannya, PT Menggelora merespon berbagai isu yang sedang terjadi. Dikemas menjadi sebuah lagu, terkadang mereka selipkan sentilan untuk mengkritisi kebijakan pemerintah. “Di dalam lirik lagunya ada suatu dorongan yang mana kita harus menyuarakan ini,” sambungnya.

Dalam momen perilisan album kedua, PT Menggelora diadili oleh dua Jaksa Penuntut, yaitu Budi Dalton dan Pidi Baiq, sedangkan kursi pembela ditempati oleh Yoga (PHB) dan Ruly Cikapundung. Jalannya pengadilan dipimpin oleh seorang hakim yakni Man (Jasad) dan panitera diserahkan pada Eddi Brokoli.

Bertajuk ‘The Journey’, ini menjadi album kedua PT Menggelora selama berkiprah di industri musik Indonesia. Dellu Uyee menerangkan, album ini harusnya rilis tahun lalu, namun pandemi Covid-19 yang terjadi membuatnya harus mengundur setahun kedepan.

Tidak cuma itu, PT Menggelora juga mengaget musisi Indonesia lainnya untuk berkolaborasi di album ini.

“Misi awal itu maunya satu tahun satu album. Tapi karena pandemi terpaksa diundur, tetapi ini tidak mengendurkan semangat kita,” terangnya.

Reza, personel PT Menggelora sudah lama mengidolakan sosok Ipang, musisi berambut gimbal dengan musik rock pop yang diusung.

Ipang menjadi salah satu musisi yang terlibat di album ‘The Journey’ bersama Andika Mahesa (ex Kangen Band), Richi ‘Five Minutes’, Sule, Dul Jaelani, dan sebagainya.

Menurutnya, kolaborasi lintas genre ini bisa menjamah penggemar musik Indonesia yang beragam dan tidak cuma terpatok di satu genre saja. “Kita mau membuat sesuatu yang berbeda karena percaya kalau setiap massa ada orangnya dan setiap orang ada massanya. Harus ada regenerasi yang membawakan genre musik reggae ini,” jelasnya.

Selain itu, lewat kolaborasi ini, PT Menggelora ingin menampilkan sajian baru yang bisa dinikmati pecinta musik Indonesia. Pasalnya mereka mengemas lagu-lagunya menjadi sesuatu yang baru dan menyegarkan.

“Yuk reggae punya dan memiliki kelas. Kita bisa tampil nasional dan berkolaborasi dengan genre musik lainnya,” imbuhnya.

Perwakilan DCDC Agus Danny Hartono mengatakan giat DCDC Pengadilan Musik episode 44 menjadi yang pertama di tahun ini. Sebelumnya selama pandemi, DCDC pernah kembali menggelar kegiatan ini sebanyak delapan kali, dan kemudian vakum di November 2020.

Keoptimisan yang dibawa mereka akhirnya membuat kegiatan ini bisa kembali dilakukan, meski dalam format virtual. Untuk edisi perdananya, DCDC Pengadilan Musik mendatangkan grup musik reggae PT Menggelora sebagai terdakwa.

Trio 'Gimbal' PT Menggelora Diadili Pengadilan Musik

Baca Juga: Angkat Potensi Musisi Lokal, Supermusic Hadirkan Reunited Moment

“Launching album kedua di bulan depan menjadi momentum kami untuk mendakwa PT Menggelora dan memberikan eksposure kepada mereka,” ujar Danny, sapaannya.

Menurut Danny, PT Menggelora punya formasi yang unik untuk sebuah grup musik. Dellu Uyee selain pemain perkusi di beberapa band juga aktif sebagai konten kreator, Rafi Gimbal adalah finalis dalam ajang pencarian bakat bergenre dangdut, dan Resha Stromp ialah pemain gitar dari band reggae Momonon.

Ke depannya, DCDC Pengadilan Musik akan tetap menampilkan musisi-musisi lokal sebelum mereka merilis karya. Meski dalam format virtual, pihaknya optimis penonton setia tetap bisa menikmati sajian secara informatif.

(fid/radarbandung)