Pemerintah Larang Takbiran Keliling, Ini Langkah Polda Jabar

oleh -
Pemerintah Larang Takbiran Keliling, Ini Langkah Polda Jabar
Ilustrasi/ist

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Jauh hari sebelum lebaran, Dirlantas Polda Jabar, Kombes Eddy Djunaedi mengingatkan agar masyarakat mematuhi larangan pemerintah terkait pawai atau takbiran keliling.

Takbiran keliling dikawatirkan dapat memicu kerumunan, akhirnya terjadi lonjakan kasus di tengah pandemi Covid-19.

Sebagaimana diketahui, pihak Kementerian Agama meminta masyarakat tak menggelar pawai keliling pada malam takbiran Idul Fitri. Takbiran diimbau di masjid atau musala dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan.

Eddy menyampaikan, pihaknya akan melakukan pendekatan secara persuasif dan humanis terkait penegakan kepada masyarakat yang nekat takbiran keliling. “Kita imbau, secara persuasif-humanis,” ungkap Eddy saat dihubungi, Selasa (20/4).

Ia sampaikan, penilangan dapat saja dilakukan ketika ada warga yang memaksa untuk takbiran keliling. Kendati demikian, Eddy berharap agar masyarakat dapat memahami Imbauan tersebut guna mencegah adanya pertumbuhan kasus Covid-19. “Semoga masyarakat paham imbauan pemerintah,” katanya.

Untuk diketahui, larangan terkait takbir keliling langsung disampaikan pihak Kementerian Agama. Kendati demikian, takbiran masih boleh dilakukan di dalam masjid atau musala dengan kapasitas maksimal 50 persen.

Baca Juga: Ustad Zacky Mirza Alami Pengentalan Darah dan Peumonia

Sebelumnya, Humas Kemenag Kota Bandung, Agus Saprudin menegaskan semua peribadahan bulan puasa dapat dilakukan di masjid, termasuk tarawih, itikaf dan takbiran. Akan tetapi, masyarat diwajibkan menaati protokol kesehatan.

“Mohon masyarakat betul-betul melaksanakan imbauan ini (taat prokes). Seluruh DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) mohon juga dapat menjalankan panduan ibadah Ramadhan di tengah pandemi dengan baik,” katanya.

Baca Juga: Menag: Takbir Keliling Dilarang, Silakan di Masjid dan Musala

“Agar ibadah berjalan baik tapi keselamatan saat pandemi juga terjaga,” lanjutnya.

Agus mengungkapkan, ada sekitar 4.000 masjid di Kota Bandung. Dengan jumlah sebanyak itu, maka pengawasan tidak mungkin dilakukan hanya oleh pihak Kemenag Kota Bandung. Dalam hal ini, peran DKM di masing-masing masjid menjadi sangat vital.

“Ada hampir sekitar 4.000 masjid. Sementara, penyuluh agama kami 100 orang, honorernya 240-an, sangat timpang,” katanya.

(muh)