Jelang Pilpres Simulasi Pemugutan Suara Kian Banyak

oleh -
Presiden Joko Widodo saat minum teh bersama Prabowo Subianto di Istana Negara. (jpnn/jawapos.com)

RADARBANDUNG.ID, CIMAHI – Beberapa bulan menjelang pelaksanaan Pemilu Presiden dan Legislatif 2019, banyak pihak yang melaksanakan simulasi pemungutan suara.

Simulasi pemungutan suara Pilpres di Dapil I Jawa Barat dengan cakupan Bandung dan Cimahi, dari 1000 responden hasilnya 357 suara untuk pasangan nomor urut 1 sedangkan pasangan nomor urut 2 memperoleh 592 suara, dengan total 51 suara tidak sah.

Pengamat politik dan pemerintahan Universitas Jenderal Achmad Yani (Unjani) Kota Cimahi, Arlan Siddha, mengatakan hasil tersebut tak bisa menjadi tolak ukur perolehan suara Pilpres April mendatang.

Kendati demikian, setidaknya hasil perolehan itu bisa menjadi gambaran kasar bagaimana dinamika politik yang ada di masyarakat Bandung dan Cimahi.

“Tergantung metode survey yang digunakan, tapi bukan hasil yang sangat menentukan untuk Pilpres nanti. Karena Cimahi ini dinamikan politiknya sangat cair,” ungkap Arlan saat dihubungi, Minggu (10/2).

Jika merangkum perolehan suara pada Pilpres 2014 yang lalu, memang kubu Prabowo mampu mengungguli Jokowi di Jawa Barat. Namun raihan tersebut belum tentu bisa diulang kembali.

“Kalau melihat head to head 2014, memang hasilnya tergambar seperti sekarang, Prabowo di Jawa Barat bisa mengalahkan Jokowi. Tapi sekarang banyak swing voter atau pemilih pemula yang belum menentukan pilihan,” katanya.

Faktor yang menentukan kemenangan pasangan 01 maupun pasangan 02 sama-sama ada di Cimahi. Pasangan 01 yang merupakan petahana, bakal mendapat dukungan dari pemimpin Kota Cimahi saat ini lantaran berasal dari partai yang sama dan partai pemenang Pemilu sebelumnya.

Sedangkan kubu 02 yang memiliki latar belakang militer, juga mendapatkan keuntungan dengan fakta bahwa Cimahi merupakan kota basis militer.

“Dua-duanya bisa diuntungkan, tergantung bagaimana mereka bisa meyakinkan masyarakat di Cimahi dan Bandung. Khusus untuk Cimahi, seperti yang sudah saya jelaskan, dua-duanya punya modal untuk saling sikut,” tuturnya.

Melihat peran dari masing-masing wakil presiden yang bisa dikatakan baru mengalami pertarungan di Pilpres, dirinya melihat tak terlalu ada peran signifikan dari keduanya untuk mendongkrak suara masing-masing pasangan.

“Pak Ma’ruf Amin dan Sandiaga ini sebetulnya tidak terlalu berpengaruh, kalaupun ada itu hanya sedikit dan yang unggul jelas Sandiaga. Karena dia lebih banyak bergerak ketimbang Ma’ruf Amin. Apalagi di Cimahi tidak terlalu banyak pesantren, tapi banyak generasi milenial yang terwakilkan oleh sosok Sandiaga,” jelasnya.

Keragaman pemilih dari kelas menengah ke bawah maupun kelas menengah ke atas, dan faktor pembeda lainnya, juga menjadi penentu raihan suara nanti.

“Di sosial media misalnya masyarakat strata ekonomi menengah ke bawah, mungkin pilih 01 lagi, karena petahana. Sedangkan yang intelek dan menengah ke atas akan pilih 02 karena ingin perubahan, tapi kembali lagi, tidak ada yang pasti dan sampai detik pencoblosan, semua pilihan masih dinamis,” bebernya.

Melihat konstelasi Pilpres 2019 nanti, dirinta mengatakan petahana cenderung lebih diunggulkan karena bisa mengetahui kebutuhan masyarakat, namun juga dirugikan dengan masyarakat oposisi yabg menagih janjinya.

Sedangkan kubu pesaing, tidak terlalu diunggulkan karena belum memiliki pengalaman memimpin sebuah negara, namun diuntungkan dengan adanya pihak yang ingin keluar dari zona nyaman dan menuntut perubahan.

“Secara global, di Jawa Barat ini konstelasinya mengarah pada kubu petahana, karena punya pemimpin yang sebetulnya menyentuh semua lapisan dan kebetulan ada di kubu petahana. Tapi banyak masyarakat intelek dan menginginkan perubahan, apalagi emak-emak, akan mendongkrak suara kubu 02,” ucapnya.

Pihak yang akan sangat menentukan raihan suara kubu 01 maupun kubu 02 yaknu sqing voter atau pemilih pemula yang hingga saat ini masih menunggu diyakinkan.

“Tentu swing voter inilah penentunya. Khusus di Cimahi saja, 20 persen swing voter masih bimbang, dan itu yang mesti dimanfaatkan timses masing-masing kubu. Yakinkan mereka,” tandasnya.

** Whisnu Pradana