Emil Diminta tak Reaktif dengan Kritikan

oleh -
bandung
Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil . ( DOK.RADARBANDUNG)

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Polemik kebijakan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang mengabadikan pojok Dilan (Dilan’s Corner) masih menuai kontroversi. Banyak pihak menilai keputusan itu tidak memiliki urgensi meski tujuannya menumbuhkan budaya literasi.

Anggota Komisi V DPRD Jawa Barat, Abdul Hadi Wijaya tak ragu melayangkan kritik pedas. Baginya, keputusan itu sama saja mengorbankan marwah Gubernur sebagai bapak dari puluhan juta rakyat Jawa Barat.

Ada banyak hal penting dan konstruktif yang harus dipikirkan oleh seorang Gubernur, seperti pengentasan ketimpangan ekonomi. Maka tak heran, jika keputusan ini menimbulkan berbagai reaksi dari berbagai pihak, maupun netizen.

“(Pojok) Dilan ini tidak konstruktif, dari segi karya memang harus diapresiasi. Tapi ga usah dilebih-lebihkan. Itu bisa dilakukan untuk tingkat Walikota. Kan ga enak Gubernur kita dibully. Beliau (Ridwan Kamil) punya marwah yang tinggi sebagai bapak puluhan juta warga Jabar. Mereka butuh perhatian,” katanya saat dihubungi, Kamis (28/02/2019).

Abdul menduga, dibalik keputusannya meresmikan pojok Dilan atau peringatan hari Dilan, Ridwan Kamil ingin meraih simpati dan mementingkan popularitas. Meski dari segi aturan tidak ada yang dilanggar, namun lebih baik tetap mengutamakan prioritas yang jadi tugasnya.

“Banyak lho pekerjaan rumah dari Ridwan Kamil. Manajemen pemerintah kan butuh penyesuaian karena banyak SDM yang dirotasi, kultur kerja yang belum dipahami. Banyak bencana, banjir, longsor. Belum lagi penyusunan RPJMD, Itu kan perlu fokus Gubernur,” tegasnya.

Karena itu, ke depan dia berharap Gubernur Ridwan Kamil bisa lebih bijak dalam memilih proyek pembangunan yang lebih penting untuk masyarakat. Dengan tidak menghamburkan energi pada proyek yang secara manfaat tidak terlalu besar.

Menurut dia, ada cara lain untuk mendongkrak budaya literasi di Jabar, tidak melulu dengan melakukan pembangunan Dilan’s Corner.

“Saya minta ke depan Pak Gubenur bisa lebih bijak. Akhirnya kan yang terjadi seperti sekarang, polemik di mana-mana,” terangnya.

Sementara itu, Akademisi dan Budayawan, Budi Dalton menilai sosok Dilan adalah tokoh fiksi yang bisa mewakili pop culture anak muda. Selama 10 tahun terakhir, sepeninggal Kabayan atau Lupus tidak ada tokoh fiksi yang bisa mewakili sebagian besar anak muda.

Dilan lahir dari sebuah karya sastra yang sukses bahkan menjadi fenomena hingga akhirnya difilmkan. Itu pantas diapresiasi. Namun, ia tidak melihat urgensi dibalik keputusan Ridwan Kamil meresmikan Pojok Dilan.

“Menurut saya, ini tidak ada urgensinya. Bukan masalah Dilannya, tapi saat memutuskan taman Dilan tidak ada urgensi dan memancing kontroversi dari berbagai pihak,” kata pria yang juga teman dekat Pidi Baiq, penulis buku Dilan.

“Lalu, berbicara tentang gubernur, alangkah baiknya memprioritaskan program beliau saat kampanye. Sekaliber beliau dengan timnya harusnya sudah memprediksi efeknya,” lanjutnya.

Ia pun berharap Ridwan Kamil tidak reaktif dengan kritik dan saran dari masyarakat. Terkait tujuan soal menumbuhkan literasi masyarkat, Budi menilai banyak komunitas atau masyarakat yang bergelut di dunja tersebut.