Pemkot Bandung Buktikan Keseriusan Jaga Lingkungan

oleh -
PEMKOT BANDUNG
Walikota Bandung, Oded M Danial Didampingi Istri, Siti Muntamah Oded Dan Wakil Walikota Bandung, Yana Mulyana Saat Mencoba Alat Pengolahan Sampah Di Pendopo Kota Bandung, Jumat (21/2). (Murwani Rokhayati/ Radar Bandung)

BANDUNG-RADAR BANDUNG, Peringati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN), Walikota Bandung Oded M Danial resmikan pojok pengolahan sampah di rumah dinasnya. Selain itu, untuk memperingati HPSN yang jatuh pada 21 Februari, Pemkot Bandung juga menggelar serangkaian acara.

Rangkaian acara tersebut adalah, perjalanan jajaran Pemkot Bandung beserta komunitas melaksanakan napak tilas ke TPA Sarimukti, pada 19 Februari 2020. Di sana, Pemkot Bandung ingin menunjukkan kepada publik kondisi Sarimukti sekaligus memberi peringatan kepada masyarakat akan bom waktu bernama sampah.

Tak hanya napak tilas, DLHK Kota Bandung juga menggelar pemutaran film “Diary of Cattle” di Bandung Creative Hub pada 26-28 Februari 2020. Sebagai puncak acara, DLHK dan PD Kebersihan Kota Bandung akan memperingatinya dengan gelar pengolahan sampah terpadu di Pendopo Kota Bandung. DLHK ingin menunjukkan kepada masyarakat transformasi Kota Bandung yang konsen dan serius menghadapi masalah lingkungan khususnya sampah.

“Jadi, sekarang di Pendopo punya tempat pengolahan sampah sendiri, khususnya untuk sampah organik. Sementara untuk sampah anorganiknya bisa dijual. Jadi kami sudah tidak membuang sampah ke TPA,” ujar Walikota Bandung, Oded M. Danial.

Di ruangan tersebut ada beberapa metode pengolahan sampah. Diantaranya, pengolahan sampah dengan menggunakan mesin yang dapat mencacah sampah organik dan anorganik. Untuk sampah organiknya bisa dijadikan kompos, untuk sampah anorganiknya bisa dijadikan paving block.

Selain itu ada pengolahan sampah dengan magot, bata terawang, dan pipa kompos atau yang biasa disebut Lodong Sesa Dapur (Loseda).

Dengan fasilitas ini, Oded mengatakan, bisa menjadi alat bagi warga untuk belajar. Menurut Oded sekarang sudah banyak Ketua RW yang berdatangan untuk melihat langsung dan belajar tentang pengolahan sampah.

“Semua ini, bukan hanya karena TPA Sarimukti akan ditutup. Melainkan, karena pengolahan sampah memang harus dilakukan di rumah, sehingga bisa mengurangi sampah yang harus dibuang ke TPA,” paparnya.

Menurut Oded, selain tempat pengolahan sampah, di Pendopo sekarang sudah ada urban farming yang menanam kangkung.

“Semua ini memang sengaja dibuat, sejak mang Oded baru pertama masuk pendopo sini,” tururnya.

Di Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) ini, Oded jadikan sebagai momentum untuk refleksi. Karena sebelumnya ada kejadian Bandung lautan sampah. Karenanya HPSN kali ini diberi hastag #diperingatibukanuntukterulang.

“Kita berharap, kejadian Bandung lautan sampah tidak terulang lagi. Karenanya Mang Oded mengajak warga untuk mengolah sampah dari rumah,” katanya.

Oded yakin jika semua warga kompak mengolah sampah dari rumah, bisa mengurangi sampah yang dibuang ke TPA secara signifikan.

“Jika kita sama-sama bekerja dengan kecepatan yang sama. Maka masalah sampah ini akan bisa kita selesaikan. Makanya kita harus bergerak dari rumah masing-masing,” jelasnya

Sementara itu, Pjs Direktur Utama (Dirut) PD Kebersihan, Gun Gun Saptari mengatakan, sudah ada 147 RW yang mau dijadikan RW Kang Pisman. Ini menandakan Kang Pisman sudah mulai tersosialisasi kepada masyarakat.

Menurut Gun Gun, di kalangan masyarakat, pola pengolahan sampah yang lebih banyak digunakan adalah pipa kompos atau Loseda. Karena pembuatan dan bahan-bahannya yang mudah digunakan.

Hanya menggunakan paralon enam inchi, ditanam sedalam sekitar 20 sentimeter. Lalu bisa digunakan untuk membuang sampah sisa makanan. Tinggal ditambah buangan air beras dan sedikit gula merah sudah bisa mengelola sampah hingga menjadi pupuk kompos.

“Jadi, untuk yang malas mengolah sampah bisa menggunakan metode ini,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Bandung, Sofyan Hernadi mengungkapkan, pada acara puncak ini pihaknya ingin menunjukkan kepada masyarakat transformasi Kota Bandung dalam menghadapi sampah.

“Kita tidak ingin lagi peristiwa tahun 2005 terulang. Kini, kita harus belajar dari kesalahan masa lalu. Kita sekarang punya Kang Pisman. Kita sudah punya metode bernama budidaya Maggot dari sampah organik. Kita juga punya beragam cara untuk mengatasi sampah mulai dari rumah, dan itu sudah dimulai oleh Pak Walikota Bandung (Oded M Danial) di Pendopo,” pungkasnya.

(mur)