Pembangunan Dinding Penahan Tanah tidak Maksimal

oleh -
Tim Tagana Kota Cimahi melakukan evakuasi dinding penahan tanah yang roboh milik BPJS Ketenagakerjaan di Kelurahan Padsuka, Rabu (29/1/2020).

RADARBANDUNG.com, CIMAHI – Ambruknya benteng pembatas milik BPJS Ketenagakerjaan ancam keselamatan. Sejumlah warga yang rumahnya berada di bawah kantor BPJS Ketenagakerjaan was-was. Mereka khawatir peristiwa itu terulang kembali.

Salah seorang warga yang sebelumnya melihat kejadian robohnya dinding pembatas itu mengaku, kejadiannya secara mendadak tanpa ada tanda-tanda misalnya, suara gemuruh maupun getaran.

“Rasa khawatir pasti ada. Apalagi pembangunan dilakukan di musim hujan,” kata Ridwan.

Sementara itu, anggota tim Tagana Kota Cimahi, Wawan menambahkan, longsornya tanah yang meyeret ke bawah benteng pembatas itu, dikarenakan kontur tanah yang labil, sehingga tidak kuat menahan beban.

“Kalau melihat kondisi tanahnya, warga khawatir karena jika pembangunan dilaksanakan tanpa ada penahan di bawah tebingnya, berpotensi longsor susulan,” kata Wawan.

Menurutnya, jika dilihat dari longsoran tanah tersebut, pembangunan tidak diperkuat oleh pondasi dibawah benteng yang sedang di bangun. Bahkan, ada dua orang pekerja ikut terbawa longsoran tanah saat melakukan pekerjaan. Beruntung dua pekerja itu selamat.

“Tanah yang menimpa masjid dan rumah cukup banyak, kami langsung evakauasi saat itu,” ucapnya.

Kendati longsoran tanah sudah menimpa pemukiman warga, dengan santay pihak BPJS Ketenagakerjaan menyebut, peristiwa itu merupakan bencana alam.

Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Cimahi Aang Supono menyatakan, penyebab longsor itu akibat bencana alam. Curah hujan tinggi menjadi penyebab longsornya tanah dari tebing setinggi 30 meter tersebut pada Selasa (28/1/2020) sore.

“Kami sedang melaksanakan pembangunan talud (dinding penahan tanah) untuk menahan longsor. Tapi saat proses pembangunan justru malah longsor karena cuaca ekstrem,” ujar Aang.

Sebelum pembangunan dilakukan, pihaknya terlebih dahulu membuat perencanaan dengan PT. Wiyata Bakti Mandiri. Lalu melakukan lelang pengerjaan fisiknya.

“Pengerjaan pembuatan DPT itu sudah sekitar 60 persen jadi belum selesai tapi keburu longsor. Terkait teknis sebetulnya kami tidak terlalu mengerti, karena dikerjakan oleh perusahaan pemenang tender, artinya sekarang masih tanggung jawab pelaksana proyek,” tuturnya.

Saat ini pihaknya memprioritaskan penanganan material sisa longsor yang menutupi saluran air hingga mengakibatkan banjir ke sejumlah rumah warga.

“Kalau tidak dibersihkan berpotensi ada banjir lagi. Material itu juga kita bersihkan karena merusak dinding masjid tepat di bawah tebing. Jadi kita fokus dulu pembersihan material longsor dibantu pemerintah daerah dan BPBD,” jelasnya.

BPJS Ketenagakerjaan juga meminta pada pengurus RT dan RW setempat untuk menginventarisir kerugian yang timbul akibat musibah tersebut.

“Untuk kerugian akan kami ganti, tapi biar jelas jadi minta diinventarisir dulu oleh pengurus RT dan RW. Termasuk untuk kerusakan masjid juga akan kami ganti,” tandasnya.

(bie)