Sehari 10 Pasangan Pasutri Cerai

oleh -
perceraian
WAWANCARA: Bupati Kabupaten Bandung Barat Aa Umbara Sutisna saat diwawancara awak media. ( foto : MOCHAMAD HABIBIE/RADAR BANDUNG )

RADARBANDUNG.id, NGAMPRAH – Tercatat sebanyak 300 kasus perceraian terjadi setiap bulannya yang disebabkan banyak faktor di wilayah Kabupaten Bandung Barat.

Bupati Kabupaten Bandung Barat Aa Umbara Sutisna mengutarakan, masih banyaknya kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), permasalahan ekonomi, perselingkuhan hingga yang lainnya.

“Angka perceraian masih tinggi di Bandung Barat. Penyebabnya mulai dari kasus KDRT, selain itu ada persoalan ekonomi dan perselingkuhan,” kata Aa Umbara Sutisna pada kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengurus Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bandung Barat di Lembang, kemarin.

Menurut Aa Umbara, tingginya angka perceraian yang rata-rata mencapai 10 kasus setiap harinya itu, sangat berpengaruh pada indeks kebahagiaan masyarakat Kabupaten Bandung Barat.

“Padahal, tujuan utama visi AKUR dan Jargon Bandung Barat Lumpat adalah terciptanya masyarakat yang bahagia. Mudah-mudahan ke depannya angka perceraian bisa terus ditekan,” katanya.

Salah satu solusinya, lanjut Aa Umbara, dengan lebih mengoptimalkan peran P2TP2A untuk bisa membangkitkan kesetaraan dan keadilan gender yang mampu mengikis faktor-faktor perceraian. Sehingga, indeks kebahagiaan masyarakat Kabupaten Bandung Barat akan terus meningkat.

Sementara itu, Ketua P2TP2A Kabupaten Bandung Barat, Yuyun Yuningsih Umbara bertekad membantu Pemerintah Daerah dalam menekan angka perceraian yang terus meningkat.

Salah satunya, kata Yuyun, melalui bimtek pengurus P2TP2A, yang fokus terhadap perkembangan sikap, etika atau rasa hormat, bahasa dan nilai terhadap anak yang ditanamkan sejak dini.

“Selain menangani permasalahan perceraian, kami juga harus mempersiapkan anak dalam menghadapi kehidupan di masa yang akan datang. Sebab, korban utama sebuah perceraian adalah anak,” pungkasnya.

(bie)