Sekolah Berwawasan Lingkungan, Minim

oleh -
minim
FESTIVAL: Seorang guru menampilkan hasil karya daur ulang dalam acara memperingati Hari Lingkungan Hidupa Sedunia dengan teman "Biru Langitku Hijau Bumiku". Sekolah berbasis wawasan lingkungan di wilayah KBB masih sangat sedikit. (foto: TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/RADAR BANDUNG)

RADARBANDUNG.id, NGAMPRAH – Sekolah berbasis wawasan lingkungan di wilayah Kabupaten Bandung Barat (KBB) masih sangatlah sedikit. Hal itu terlihat dari minimnya sekolah yang ikut serta dalam program Adiwiyata yang digelar di tingkat provinsi.

Program Adiwiyata yang digagas oleh Provinsi Jawa Barat tersebut tampaknya masih belum diaplikasikan kepada sekolah di Bandung Barat.

Kepala Bidang Tata Kelola Lingkungan Hidup pada Dinas Lingkungan Hidup KBB, Zamilia Floreta membenarkan minimnya sekolah yang berwawasan lingkungan.

Dia menjelaskan, pada program Adiwiyata 2019, hanya delapan sekolah yang berpartisipasi. Lima sekolah di antaranya mendapatkan penghargaan Raksa Prasada sebagai Sekolah Adiwiyata dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat.

“Kalau kita lihat memang sangat minim karena jumlah sekolah kan banyak. Tahun lalu, kami sudah sosialisasikan program ini ke 70 sekolah, tetapi yang mendaftar hanya delapan sekolah. Dan, Alhamdulillah lima sekolah mendapatkan penghargaan,” katanya di Ngamprah, Selasa (13/8/2019).

Kelima sekolah yang mendapatkan penghargaan tersebut yaitu SMAN 2 Padalarang, SMAN 1 Lembang, SMPN 2 Padalarang, SMPN 2 Ngamprah, dan SD Damian School. Kelima sekolah ini dinilai memenuhi kriteria sebagai sekolah yang berwawasan lingkungan.

Menurut Zamilia, sekolah Adiwiyata merupakan sekolah yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, sebagaimana tertuang dalam visi misi dan kebijakan sekolah.

Selain itu, para siswa, guru, dan petugas di sekolah aktif berpartisipasi dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang bersih, serta didukung dengan sarana dan prasarana yang memadai.

“Kriteria-kriteria inilah yang menjadi penilaian dalam program Adiwiyata. Dan proses penilaian juga berjalan bertahap selama setahun. Jadi, sekolah harus bisa menjalankan program-program berkesinambungan selama minimal setahun,” tuturnya.

Dia juga mengungkapkan, tahun ini pihaknya hanya menargetkan enam sekolah yang berpartisipasi dalam program Adiwiyata 2019. Hal itu disebabkan minimnya anggaran sosialisasi serta personel di dinasnya.

Bahkan tahun 2019, pihaknya tidak menggelar sosialisasi terlebih dahulu. Namun, langsung mendatangi sekolah-sekolah yang dituju untuk memberikan pembinaan terkait dengan sekolah berwawasan lingkungan.

(bie)