Asuransi Minim Edukasi, Lahirkan Generasi “Sandwich”

oleh -
MENJELASKAN: Pejabat PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia (Manulife Indonesia), memaparkan sejumlah keuntungan dari asuransi, di Aula Kantor Manulife Bandung, Jalan Asia Afrika, Kota Bandung. (GATOT POEDJI UTOMO/RADAR BANDUNG)

RADARBANDUNG.ID, BANDUNG – Minat masyarakat mengikuti program asuransi masih rendah. Kendati begitu, masyarakat tidak bisa disalahkan. Salah satu penyebabnya yakni edukasi.

Maka tidak aneh, jika jumlah masyarakat khususnya di Indonesia yang memiliki asuransi sangat minim dibandingkan dengan negara-negara lain.

Berdasarkan data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pada 2017, masyarakat Indonesia yang memiliki asuransi baru mencapai 1,3 persen. Angka tersebut sangat jauh dibandingan dengan jumlah penduduk Indonesia.

Dari 50 juta pekerja di Indonesia memiliki asuransi dana pension, hanya 27 persen saja.

Selebihnya, banyak mengandalkan dana pensiun yang berasal dari perusahaan tempatnya bekerja.

Head of Brand & Product Campaign Manulife, Henry Widagdo mengatakan, sejauh ini ketidaklengkapan informasi terkait asuransi, selalu jadi masalah yang hingga saat ini tidak mudah dipecahkan.

“Ini menandakan edukasi literasi asuransi di Indonesia masih kurang. Dampaknya, banyak masyarakat yang belum mengetahui mengenai asuransi dan juga manfaatnya,” ujar Henry Widagdo kepada wartawan saat peluncuran MiFuture Income Protector (MiFIP) untuk Persiapan Hari Tua Nasabah, belum lama ini.

Menurutnya, manfaat dari kepemilikian asuransi sama hal nya dengan merencanakan masa tua atau saat memasuki memasuki masa pensiun. Sesuai dengan Manulife Investor Sentiment Index (MISI) tahun 2017 lalu, sebanyak 81% masyarakan optimistis menghadapi masa tua mereka.

Hanya 19% yang merasakan khawatir akan kehabisan uang saat memasuki masa pensiunan nanti.

“Karena merasa cukup mendapatkan dana pensiun dari kantor atau perusahaan tempatnya bekerja, jadi tidak menjadi nasabah asuransi,” ujarnya.

Dengan kondisi seperti ini, lanjut Henry, tidak menutup kemungkinan akan melahirkan generasi sandwich.

Dalam arti, seseorang harus menanggung beban untuk membiayai orangtuanya dan juga keluarganya.

“Tentunya, kita tidak ingin generasi sandwich ini lahir di Indonesia,” jelasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS)merilis, pada 2020 nanti rasio ketergantungan orang nonproduktif kepada orang produktif akan meningkat. Satu orang produktif akan menanggung 48 orang nonproduktif.

“Melihat kondisi tersebut, maka kita harus mempersiapkan masa tua kita dengan baik mulai dari sekarang. Sehingga kita tetap bisa hidup bahagia di masa tua tanpa memberatkan anak-anak atau keluarga,” pungkasnya.

(gat)