Warga Ngungsi ke Kolong Jembatan

oleh -
Sejumlah warga terdampak banjir di Kecamatan Pamanukan Subang, mengungsi di kolong jembatan.

RADARBANDUNG.id, SUBANG Ribuan rumah di wilayah Kecamatan Pamanukan, Kabupaten Subang terendam banjir. Akibatnya, warga sekitar terpaksa meninggalkan rumah mereka.

Kolong jembatan dan Gedung Olah Raga (GOR) jadi pilihan untuk menghindari air yang terus meluap.

Dari data tertulisnya, Camat Pamanukan, Ela Nurlaela menyebutkan, akibat banjir di wilayahnya ada sekitar 1.000 rumah terekena dampaknya.

“Berdasarkan data yang masuk, akibat banjir di Pamanukan sudah merendam lebih dari 1.000 rumah. Ketinggian air rata rata antara 50 hingga 70 sentimeter,” kata Ela.

Selain merendam pemukiman warga banjir juga merendam 21 ruang kelas SMAN 1 Pamanukan dengan ketinggian air sekitar 30 hingga 50 cm.

“Demi keamanan, pihak sekolah terpaksa memulangkan siswa lebih awal karena 21 ruangan kelasnya di terendam banjir, ” kata Ela menambahakan.

Dari pantuan, ratusan warga korban banjir mengungsi setelah rumah mereka direndam air sejak Pukul 14.00 WIB. Mereka lebih memilih mengungsi ke bawah jembatan Fly Over Pamanukan sebagian di GOR Pamanukan.

Mamat (50) dan keluarganya mengungsi. Ia sempat khawatir banjir meluap sampai ke rumah.

“Saya bersama keluarga lebih memilih mengungsi, karena ketiinggian air terus naik, anak anak kami sangat letakutan, ” kata Mamat  yang mengungsi dibawah Flyover Pamanukan.

Sementara itu, berdasarkan informasi dari Tim Tagana Subang, di Kecamatan Pusakajaya banjir merendam ratusan rumah warga Desa Pusakajaya, yakni Dusun Mekarjaya sebanyak 40 rumah, Dusun Pasirjati 210 rumah, Dusun Kerungjati 125 rumah dan di Dusun Mekarjati 59 rumah, ketinggian air mencapai 70 centimeter hinga 1 meter.

“Untuk warga terdampak, mereka lebih memilih mengungsi ke rumah kerabat dan kebeberapa masjid,”  kata Ketua Tagana Subang, Jajang.

Masih di Kecamatan Pusakajaya, yakni di Kp.Kilang, desa Randu sebanyak 48 KK masih terisolir, akibat tidak ada ekses yang bisa menembus ke wilayah itu.

“Untuk menembus daerah itu, Tagana telah menyiapkan Perahu Karet untuk membawa logistik dan upaya evakuasi, dengan jarak tempuh sekitar 1 kilometer,” terang Jajang

Kemudian, di Kecamatan Pagaden Barat, akibat meluapnya air Sungai Panyairan banjir merendam puluhan hektare sawah di tiga desa. “Yakni di Munjul, Bendungan dan Desa Mekarwangi,” ucapnya.

Ia menduga banjir tersebut disebabkan karena curah hujan tinggi, sedangkan daya tampung sungai semakin berkurang menyusul tingkat sedimentasi yang cukup tinggi.

Selain itu, lanjut dia terjadi penyempitan sungai yang disebabkan karena banyak bangunan rumah penduduk di tepi sungai.

Ahya Nurdin (35), salah seorang warga Desa Pamanukan mengakui banjir sering terjadi ketika saat musim hujan.

“Banjir paling parah terjadi pada tahun 2014. Adapun penyebabnya karena sungainya mengalami pendangkalan sehingga perlu dinormalisasi,” ujarnya.

(anr/b).