Hanya ada Satu yang Terbaik di Beswan Djarum 2018/2019

oleh -

RADARBANDUNG.ID, BANDUNG – Ada 28 mahasiswa se-Kota Bandung yang beradu pemikiran dengan gagasan kreatifnya, demi memperebutkan best ‘Writing Competition Beswan Djarum Final Regional Bandung 2018/2019’ oleh Djarum Foundation.

Dari 28 finalis tersebut kemudian di kerucutkan menjadi 10 besar dan hanya satu yang nantinya menjadi perwakilan Kota Bandung diajang Nasional, dalam setiap kategorinya yakni Humaniora dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek).

Hal tersebutlah yang membuat Dosen Fakultas Teknologi Informasi dan Sains Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) Kian Ming, Wartawan Senior Budhiana Kartawijaya dan Pemilik Radio, Gandjar Suwargani harus benar-benar memilah kualitas dasar para peserta.

Serta, dilihatnya peserta yang mampu mempertanggungjawabkan ide gagasannya dihadapan tiga dewan juri.

“Setiap tahunnya bisa dilihat kemampuan para mahasiswa di Kota Bandung sudah begitu baik, mereka mampu melihat permasalahan yang ada di sekitarnya secara kritis sekaligus menemukan solusinya,” ujar Budhiana.

Selain itu, lanjut Budhiana, yang membuat semakin sulit karena para peserta memiliki permasalahan yang unik dan dibisa dibedah secara mendetail. Namun, ia pun masih memaklumi jika banyak yang belum bisa membedah secara dalam karena kebanyakan mahasiswa masih di tingkat tiga.

“Saya sih optimis siapa pun nantinya yan lolos pasti akan membanggakan Kota Bandung karena materinya, peran kami pun tentu saja untuk bisa membantu mereka yang nanti lolos ke tingkat nasional untuk bisa memperdalam kasusnya agar lebih luar biasa,” tambah Kian Ming.

Ia menegaskan, para peserta oun banyak yang mengangkat akan tema digitalisasi namun tidak ada pun permasalahan serupa antara peserta. “Karena mereka hidup di zaman perkembangan digital enti sangat maklum banyak yang mengangkat unsur digital, permasalahannya pun begitu beragam,” tukasnya.

Sementara Perwakilan peserta dari kategori Humaniora, Petra Pradnja Paramita melalui judul ‘Rekomendasi Kebijakan Indonesia Tentang Wilayah Perbatasan’ dan Ilmu Pengetahua dan Teknologi (Iptek) Patricia Samantha Puteri dengan judul ‘Cerana Beeswax Lilin Lebah Indonesia Sebagai Alernatif Lilin Parafin Penyebab Kanker’.

Petra menjelaskan, alasannya mengambil judul tersebut mengingat jurusan yang diambil adalah Hubungan Internasional di Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) maka dinilai cukup related dalam makalah yang dipresentasikan.

“Saya akui materi riset saya cukup minim mengingat hanya dua malam saja melakukan penulisan makalah sebanyak 10 halaman itu, tapi saya yakin jika diberikan kesempatan lebih akan cukup mendalam,” ujar Petra di sela-sela acara.

Materi utama dari presentasinya ialah agar mempertegas wilayah perbatasan Indonesia dengan negara lain, agar tidak ada lagi kasus seperti beberapa waktu lalu.

Sementara Patricia, ia menjelaskan limbah lembah di Kabupaten Bandung tidak diolah dengan baik oleh para petani sempat. “Padahal kalau di luar negeri ibu bisa menjadi sangat mahal, dan kalau dijadikan lilin maka bisa menjadi lilin terbaik karena aromanya tidak menyebabkan penyakit kanker,” jelasnya.

Disinggung perihal Writing Competition Beswan Djarum, Patricia memandang kegiatan tersebut sangatlah baik karena mampu dibekali soft skill, leadership development dan character building.

“Selain itu memang para peserta dipersiapkan untuk membangun negeri bukan membangun kemampuan untuk diri sendiri,” pungkasnya.

Reporter: Nida Khairiyyah