Rosemary Berhasil Memukau dengan Musik Etnik

oleh -
MEMUKAU: Bertemakan festival, tak hanya Rosemary yang mengunakan dandanan layaknya seorang badut namun Ki Ageng Ganjur pun menggunakan beragam topeng. (Nida Khairiyyah/Radar Bandung)

RADARBANDUNG.ID, BANDUNG – Djarum Coklat Dot Com (DCDC) menyelenggarakan festival akhir tahun dengan konser kolaborasi skatepunk dengan musik tradisional gamelan, Rock N’Semble. Sebuah pertunjukan yang mempertemukan dua musisi asal Jawa Barat, Rosemary dan Jogjakarta,Ki Ageng Ganjur.

Sebagai informasi ini bukan kali pertamanya mereka berkolaborasi, di 2015 secara tidak sengaja mereka dipertemukan secara mendadak dan melakukan sebuah pertunjukan yang mampu memikat Wars (fans Rosemary).

Sehingga selama empat tahun sebuah konsep dan jadwal di susun secara matang dan menghasilkan Rock N’Semble yang diselenggarakan di Lapagan Pusenif, Kota Bandung.

Perwakilan DCDC, Sigit Prasetyo didampingi Perwakilan Atap Promotion, Uwie Fitriyani menyebut, jauh lebih lama konsep dan mempersatukan jadwal mereka dibandingkan latihan yang hanya dua bulan. Menurut Sigit, ini bukan kali pertamanya DCDC memberikan sebuah festival akhir tahun yang ciamik.

“Kalau masih ingat tahun lalu kita sudah menyelegarakan hal serupa yakni Bugerkill dengan musik orchestra, tahun ini udah Rosemary dengan musik etnik tahun depan akan ada kejutan lagi,” ujarnya kepada wartawan di sela acara Rock N’Semble, Sabtu (19/10/2019).

Warna baru dalam sebuah musik yang diperlihatkan oleh DCDC, tak lain ingin memikat anak muda yang datang untuk bisa terpacu kembali mencintai musik etnik.

“Kita ada musisi Stand Here Alone, Lowdick, Sir Iyai, IksanSkuter, Maw & Wang, DJ E-One Cronikdansalahsatu band DCDC ShoutOut! Yaitu Olegun Gobs,” tambahnya.

Sigit menyebut untuk kegiatan festival akhir tahun yang diselenggarakan Rock N’Semble bisa menjadi pacuan untuk kedepanya dalam melakukan kegiatan kedepannya.

Beragam activity dihadirkan sejak sore hingga malam hari, salah atunya menyediakan playground untuk komunitas sepeda BMX dan skateboard untuk beragam atraksi.

Disinggung perihal kepuasan, Sigit mengaku tidak boleh merasa puas bahkan harus memberikan banyak hal yang lebih lagi kedepannya.

“Sebanyak 5.000 tiket ludes terjual, 30 persen memang melalui online di DCDC Pasport sisanya di kantong offline yaitu partneran studio, kafe, store floating dan ada tiket box  yang banyak on the spot,” tambahnya.