Babak Akhir Dilan, Ada Hari Milea di Bandung

oleh -
BERFOTO : Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil berfoto bersama dengan pemeran film Dilan di Gedung Pakuan, Kota Bandung. (Nur Fidhiah Shabrina/RADAR BANDUNG)

KISAH cinta Dilan dan Milea sampai dibabak akhir. Film ‘Milea: Suara Dari Dilan’ menjadi karya terakhir dari trilogi Dilan. Dijadwalkan tayang 13 Februari, film ini mengambil sudut pandang Dilan tentang perasaannya kepada wanita terkasihnya, Milea.

Disutradarai Fajar Bustomi dan rumah produksi Max Pictures, film Milea: Suara Dari Dilan melanjutkan kisah cinta Dilan dan Milea pasca mereka berpisah di film sebelumnya. Pasangan fenomenal ini masih dimainkan Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Prescilla yang jadi icon dari series Dilan yang pertama kali dirilis tahun 2018.

Pada pemutaran perdananya nanti, 13 Februari juga ditetapkan sebagai Hari Milea. Dihari itu, seluruh pendukung film Milea: Suara Dari Dilan akan berkonvoi keliling Kota Bandung.

Dalam memeriahkan rangkaian Hari Milea, mereka akan menyambangi empat bioskop untuk menyapa para penonton. Selain itu, akan ada gala premiere spesial di kota kelahiran novel trilogi Dilan tersebut. “Tahun ini kami bikin Hari Milea, setelah tahun lalu bikin Hari Dilan. Buat saya kesuksesan film Dilan tidak lepas dari dukungan pemerintah dan warga Bandung yang antusias,” kata sutradara Fajar Bustomi di Gedung Pakuan Jalan Cicendo, Jum’at (7/02).

Fajar mengungkapkan, menurut data, perolehan penonton film Dilan 1990 (2018) sejumlah 6,3 juta, sedangkan Dilan 1991 (2019) sebanyak 5,2 juta. Ini merupakan sebuah prestasi bagi industri film Indonesia. Dimainkan oleh aktor dan aktris muda berbakat, film Milea: Suara Dari Dilan diharapkan bisa kembali menembus box office Indonesia.

Proses syuting Milea: Suara Dari Dilan dilakukan selama 2 bulan di tahun 2018. Diselesaikan bersamaan dengan syuting dua film sebelumnya, lokasi syuting dilakukan disejumlah titik di Kota Bandung yang penuh cerita. “Kita syuting Dilan 1990 (2018) dan Dilan 1991 (2019) tahun 2018 di Bandung. Kami mengucapkan terimakasih kepada masyarakat Bandung yang sudah mendukung selama proses jalannya produksi berlangsung,” sambungnya.

Produser Ody Mulyana Hidayat dari Max Pictures mengaku, di hari pertama pemutaran Milea: Suara Dari Dilan, mereka meminta 1.000 layar. Menurutnya, kalau film asing bisa, maka film Indonesia pun harus bisa.

“Kami kemarin sempat preview film ini dislaah satu stasiun televisi dan mereka menyebut kalau film Milea: Suara Dari Dilan merupakan film terbaik dari series Dilan. Mudah-mudahan film Milea bisa meraih lebih banyak penonton lagi,” kata Ody.

Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengaku senang mendengar kesuksesan film Dilan 1990 dan Dilan 1991. Dia berharap, film ini bisa meraih prestasi yang serupa. “Sikap saya sama, saya mendukung kebangkitan film Indonesia. Dua film ini dalam perolehan penonton apabila digabungkan mencapai 11 juta dan menjadikan sebagai sebuah kekuatan,” ujar Emil.

Ia mengungkapkan kesuksesan series Dilan justru datang karena diambil dari novel best seller. Film Milea: Suara Dari Dilan merupakan adaptasi dari buku karangan Piqi Baiq dengan judul yang sama dan diluncurkan tahun 2016. “Narasi film datang biasanya yang diambil dari novel itu nendang. Makanya saya mengajak kepada generasi muda untuk hobi menulis, sebab dengan menulis maka nalas berimajinasi akan berkembang,” terangnya.

Selain itu, proses syuting yang dilakukan di Bandung disebutkan Emil bisa jadi promosi sebuah kota di Provinsi Jawa Barat. Banyaknya bangunan bersejarah dan keindahan alam di Bandung menjadi daya tarik para sineas untuk melakukan proses produksi film di sini.

“Saya sebagai pemprov Jabar mendukung, kalau mau syuting di Bandung saja lengkap. Di Bandung, konteks sejarah ada, lalu keindahan alam juga ada. InsyaAllah di sini lengkap, saya doakan lancar dan sukses,” tandasnya. (fid/b)