Kata Peneliti Soal Efektivitas Vape Untuk Hentikan Kecanduan Rokok

oleh -
Mamfaat Vape
Ilustrasi vape atau rokok elektrik sebagai pengganti rokok. (Medical Xpress)

RADARBANDUNG.id – Merokok menimbulkan berbagai masalah kesehatan seperti penyakit kardiovaskular, gangguan pernapasan, kanker, dan lainnya. Meski sudah tahu berbahaya, sayangnya tak semua perokok bisa dengan mudah berhenti. Salah satu cara mengendalikan rasa kecanduan itu adalah dengan beralih ke rokok elektrik atau vape.

Penelitian soal Vape di Indonesia saat ini terbatas. Sehingga masyarakat dinilai masih kurang mendapatkan informasi yang tepat.

“Penelitian mengenai rokok elektrik dapat dilakukan dengan metode yang lebih tepat, seperti penelitian uji emisi aldehid dari rokok elektrik di laboratorium, sebaiknya dilakukan dengan kondisi yang sesuai dengan yang digunakan oleh vaper,” kata Peneliti dari Universitas Padjajaran dan co-founder Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik

drg. Amaliya kepada wartawan baru-baru ini.

Menurutnya, peneliti harus melakukan observasi terlebih dahulu pada pengguna vape, bagaimana kebiasaan dan kondisi apa yang tepat yang bisa disimulasikan di laboratorium sehingga mendekati kondisi nyata penggunaan vaping. Hal ini juga telah dianalisis oleh peneliti dr. Farsalinos dkk (2018) dan telah dipublikasikan pada Food and Chemical Toxicology.

“Maka dari itu, soal vape ini memang harus terus diteliti dan dibuktikan secara metodologis,” jelasnya.

Sebagai perbandingan, sebuah studi yang didukung oleh National Institute for Health Research and Cancer Research UK membuktikan bagaimana rokok elektrik dapat menjadi terapi untuk berhenti merokok. Studi yang dilakukan di Inggris tersebut dimulai pada April 2015 dan berakhir pada Maret 2018.

Penelitian ini bertujuan melihat tingkat pantang yang tervalidasi secara biokimia selama 12 bulan pada perokok yang menggunakan rokok elektrik dibandingkan dengan terapi pengganti nikotin (NRT). Partisipan penelitian berjumlah 886 orang yang berusia 18 tahun ke atas dan merupakan perokok aktif yang sedang mengikuti program berhenti merokok.

Peneliti membagi separuh dari total partisipan untuk menggunakan rokok elektrik, dan separuhnya lagi menggunakan produk pengganti nikotin (seperti nicotine patch dan permen karet nikotin). Semua partisipan studi mendapatkan layanan konseling individual setiap minggu selama empat minggu. Setelah setahun, pengurangan rokok akan terbukti dengan mengukur banyaknya karbon monoksida yang dihirup.

Hasil temuan pertama dari penelitian itu adalah 18 persen partisipan yang menggunakan rokok elektrik berhasil berhenti merokok selama setahun, dan hanya 10 persen yang menggunakan NRT berhenti merokok. Dari total orang yang sukses berhenti merokok tersebut, 80 persen partisipan yang menggunakan rokok elektrik masih menggunakan vape, dan hanya 9 persen pengguna NRT tetap menggunakan produk tersebut.

“Yang tak kalah menarik, laporan batuk dan adanya dahak lebih rendah pada partisipan yang menggunakan rokok elektrik,” jelasnya.

Dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa rokok elektrik lebih efektif untuk menghentikan kebiasaan merokok dibandingkan dengan produk pengganti nikotin. Namun hal tersebut harus disertai dengan tindakan pendukung seperti konseling agar memiliki dampak yang maksimal.

(jpc/radarbandung)