Hidup Menuju Bangsa Sehat Berprestasi

oleh -
JALANSEHAT: Warga Bandung mengikuti kegiatan perayaan HGN 2019 dengan tema 'Membangun Gizi, Menuju Bangsa Sehat Berprestasi' yang digelar Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat bertempat di halaman Rumah Sakit Borromeus, Jalan Ir H Djuanda.(Nur Fidhiah Shabrina/Radar Bandung)

RADARBANDUNG.ID, BANDUNG – Minat masyarakat untuk memeriksakan kesehatan khususnya asupan makanan yang masuk ke tubuh dirasa masih rendah.

Paradigma yang menyebut ‘kalau sakit baru ke rumah sakit’ dipandang perlu di rubah karena masih banyak masyarakat yang kurang memperhatikan asupan gizi sehingga menyebabkan seseorang mudah terserang penyakit tidak menular (PTM).

Pentingnya asupan gizi mempengaruhi metabolisme seseorang, sehingga penyakit bisa dengan mudah masuk ke dalam tubuh apabila makanan yang dicerna sembarangan.

Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat dalam memperingati Hari Gizi Nasional yang jatuh setiap tanggal 25 Januari, tahun ini fokus mengkampanyekan asupan gizi dengan tema ‘Membangun Gizi, Menuju Bangsa Sehat Berprestasi’.

Menciptakan generasi bangsa yang cerdas dan berprestasi bisa dimulai dari asupan gizi yang masuk sejak anak lahir.

Seribu hari setelah bayi lahir menjadi masa-masa kritis sehingga menjaga asupan makanan yang masuk ke tubuh bayi diperlukan perhatian khusus.

Apabila kurang maka dampak jangka panjang bisa diterima bayi tersebut, seperti gizi buruk, gizi kurang, bahkan stunting.

“Kesadaran masyarakat untuk menjaga pola makan dan memperhatikan asupan gizi di Indonesia itu masih kurang. Padahal sangat penting dan pola pikir masyarakat juga perlu dirubah. Selama ini kalau membicarakan kesehatan itu pasti pelayanan rumah sakit, padahal mencegah datangnya penyakit juga perlu,” ujar Plt Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Dodo Suhendar, ditemui Radar di Rumah Sakit Borromeus, Jalan Ir H Djuanda, Minggu (27/1/2019).

Dodo menuturkan datangnya penyakit sekarang sudah bukan akibat dari keturunan, namun gaya hidup yang tidak sehat menjadi persentase terbesar.

Masalah ini perlu ditangani serius sebab kalau tidak kualitas sumber daya manusia menjadi rendah. PTM seperti gagal ginjal, kanker, gizi buruk, gizi kurang, dan stunting adalah penyakit yang dirasa Dodo diakibatkan kurangnya pengetahuan mengenai asupan gizi.

Bahkan penyakit diabetes yang bisa disebabkan keturunan juga bisa karena pola makan yang tidak jaga.

Kampanye sadar gizi ini dilakukan Dinkes Jabar bekerjasama dengan puskemas yang tersebar di setiap kecamatan dan kelurahan.

Peran puskesmas juga dibutuhkan untuk meningkatkan pengetahuan kepada masyarakat, kurangnya informasi mengenai pola makan dianggap sebagai alasan mengapa persentase PTM masih cukup tinggi di Jawa Barat.

“Sasaran kami yakni remaja yang akan menikah. Mereka diberikan edukasi mengenai anak merupakan investasi sehingga hal sederhana seperti asupan makanan harus sangat diperhatikan karena mempengaruhi keberlangsungan hidup saat dewasa,” terangnya.

Turut menggandeng Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI), Dodo berharap masyarakat bisa lebih aware mengenai gizi di Indonesia.

Ketua PERSAGI Wilayah Jawa Barat, Suparman, setuju dengan kampanye yang dilakukan Dinkes Jabar. Ia menyebut ribuan ahli gizi sudah di sebar ke seluruh Puskesmas di Jawa Barat untuk memberikan penyuluhan ke masyarakat.

Namun kesadaran juga diperlukan agar kampanye bisa berjalan dengan lancar.

Suparman mengatakan dalam mengkonsumsi makanan diperlukan gizi seimbang. Diantaranya, karbohidrat, protein, dan vitamin.

“Setiap makanan harus ada sumber tenaga yang bisa di dapat tidak harus dari nasi, bisa roti atau umbi-umbian, kemudian zat pembangun yakni lauk tetapi jangan berlebihan. Lalu sayur dan buah yang kesadarannya masih sangat rendah, dalam sehari asupan keduanya harus 400 gram per hari. Karena, sayur membantu untuk menyumbat atau penyerapan penyakit tidak menular yang dihasilkan dari makanan,” tandasnya.

(fid)