Optimisme Warga Indonesia Meningkat Akan Industri Kreatif

oleh -

RADARBANDUNG.ID, BANDUNG — Mantan Bupati Purwakarta sekaligus tokoh budayawan Jawa Barat, Dedi Mulyadi memandang industri kreatif di Indonesia semakin bertumbuh pesat.

Sehingga, ucap Dedi, tercatat di 2017 sektor kreatif mencapai Rp1.009 triliun, beranjak ke 2018 meningkat Rp1.105 triiliun dan 2019 ditargetkan mencapai Rp1.211 triliun.

“Anak muda indonesia itu kreatif. Potensi mereka begitu besar untuk mendorong industri kreatif tumbuh pesat,” ucap Dedi di orasi pekerja kreatif yang diadakan oleh Asumsi.co di Gedung Sabuga, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, Sabtu (9/2/2019) malam.

Dengan tinginya industri kreatif, ia mengaku optimis bahwa Indonesia akan semakin berkembang terutama mampu mendorong anak muda lebih aktii

“Tak pernah ada komitmen begini besar untuk industri kreatif pada pemerintahan sebelumnya, saya melihat dimasanya Presiden Joko Widodo lebih komitmen bahwa industri kreatif akan menjadi andalan ekonomi di masa depan,” tuturnya.

Hal tersebut, lanjutnya, dilihat dari penyerapan tenaga kerja. Hingga 2017, sebanyak 17,43 juta pekerja terserap di industri kreatif.

Dedi juga menyoroti akar kebudayaan yang cenderung terabaikan dalam gegap gempita perubahan terutama terkait dengan pembangunan.

Padahal, lanjut Dedi, dengan era digital semestinya kondisi tersebut bisa menjadi ciri khas yang menjadi daya tarik kaum milenial.

“Merancang pembangunan daerah di era sekarang ini Identitasnya harus jelas, harus jadi kebanggaan, digitalisasi itu yang mengeksploitasinya, ini era digital tapi kita jangan sampai melupakan akar kebudayaan leluhur kita” bebernya.

Sementara itu, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil mengatakan, masyarakat Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin optimis dengan kondisi bangsanya.

Optimisime itu, ucap Emil (sapaan akrabnya), bahkan menjadi energi yang menggerakkan para pegiat industri kreatif untuk terus membuat terobosan untuk masyarakat.

“Menurut hasil survei 2017, kita menjadi masyarakat paling optimis di dunia. Jadi, kalau pesimis sebaiknya nggak usah mengajak yang lain,” ujarnya.

Namun, mantan walikota Bandung itu menambahkan, perasaan optimisme bangsa bukan tanpa ancaman. Sebagai negara dengan beragam suku, agama, ras dan bahasa, nilai kesatuan bisa dengan gampang diganggu karena konflik yang muncul akibat perbedaan.

“Kita mudah bertengkar dan yang membuat prihatin, pertengkaran itu dipicu hal sepele. Makin ramai karena kita juga hobinya cenderung mencari perbedaan. Kalau tak bertengkar seperti itu, kita harusnya sudah jadi bangsa juara,” jelasnya.

“Jaga persatuan ini penting, terlebih dengan prediksi bahwa pada 2045. Kita bisa menjadi negara adidaya, di antaranya, sepanjang pertumbuhan ekonomi jangan turun di bawah lima persen, dan tak bertengkar karena demokrasi, karena waktu kerja kita bakal tersita untuk mendamaikan,” tambahnya.

Walikota Bogor, Bima Arya yang hadir pun sependapat dengan Emil, dia mengingatkan bahwa potensi generasi milenial yang akan menjadi tulang punggung bangsa di masa depan harus dijaga dengan membangun ekosistem kreatif yang baik.

“Jangan sampai justru terjebak pada konflik. Kita sekarang memiliki lebih banyak kemudahan dibanding sebelumnya. Ini yang harus kita jaga bersama,” pungkasnya.

** NDA