Pemprov Targetkan Pasang WiFi di 638 Titik Desa

oleh -
wifi
TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/ RADAR BANDUNG MENGAKSES: Warga saat mengakses internet melalui gawai. Pemprov Jabar targetkan pemasangan sambungan internet secara gratis di 638 titik desa. (foto : TAOFIK ACHMAD HIDAYAT/ RADAR BANDUNG)

RADARBANDUNG.id, BANDUNG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Barat menargetkan pemasangan sambungan internet secara gratis (wireless fidelity/WiFi) di 638 titik desa bisa terlaksana pada 2019. Program tersebut untuk menunjang layanan dasar desa digital.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Jawa Barat, Dedi Sopandi mengatakan, untuk tahap pertama akan ada 157 titik desa yang mendapat sambungan internet gratis. Diketahui, program tersebut diresmikan di Desa Sirnarasa, Kabupaten Sukabumi, Minggu (14/4/2019).

“Tahun ini targetnya ada 638 titik. Sekarang, tahap pertama pemasangan dilakukan di daerah yang betul-betul lokasi blankspot yaitu ada 157 titik desa,” ujar Dedi.

Dedi menyampaikan, pemasangan sambungan internet gratis ini harus melalui beberapa syarat yang mesti dipenuhi. Salah satunya, layanan tersebut dipasang pada tempat yang biasa diakses warga. Misalnya, kantor desa, sekolah, pesantren dan puskesmas.

Pihaknya pun harus meninjau beberapa aspek yang perlu diperhatikan terkait pemasangan sambungan internet gratis tersebut. Mengingat, salah satu syaratnya harus ada koneksi listrik. Selain itu, juga harus memenuhi aspek keamanan dari alat.

“Akhirnya sarana-sarana umum itu menjadi sasaran titik pemasangan WiFi gratis,” bebernya.

Selain di Sukabumi, program WiFi gratis pun yang masuk dalam tahap pertama akan dipasang di Kabupaten Pangandaran, Bandung Barat, Kabupaten Bekasi, Karawang, Purwakarta, Subang, Indramayu, Sumedang, Majalengka, Cirebon, Kuningan, Ciamis, Tasik, Garut, Kabupaten Bandung dan Cianjur.

Dia berharap, warga Jawa Barat bisa memanfaatkan program jaringan internet gratis ini untuk melakukan komunikasi dengan lebih luas lagi dan meningkatkan potensinya masing-masing. Terutama untuk segi pemasaran berbagai produk yang ada di desa merambah ke skala nasional hingga internasional.

“Mereka bisa melakukan pemasaran produk desa bukan hanya level lokal, tapi nasional hingga internasional. Ataupun wisata wisata desa sampai ke internasional,” katanya.

Dengan begitu, produk unggulan hasil usaha di setiap desa akan memiliki lapak lebih luas dalam memasarkannya, sebab dapat melalui sambungan internet. Dimana, produsen pun bisa berkomunikasi secara langsung dengan pembeli ketika menawarkan produknya, tidak harus melalui perantara.

“Mendekatkan hasil usaha desa dengan komunitas yang memang membutuhkan sehingga tidak lagi terlalu banyak campur dari beberapa pengepul yang akhirnya berkurang untuk pemasaran,” pungkasnya.

(arh/net)